(by nelson douw)
Dua orang laki-laki kakak beradik hidup di suatu daerah. Yang kakak
sudah dewasa dan yang adiknya masih kecil sekali. Di sekitar mereka
berdua juga banyak sekali 164 penduduk. Pada suatu hari kakaknya menikah
dengan seorang perempuan. Selama mereka bertiga hidup, perempuan itu
kurang memperhatikan kepentingan adik kecil tersebut. Petatas yang
kecil, keladi yang kecil dan air minum yang kotor itulah yang menjadi
bagian adik kecil. Suatu sore semua pemuda di kampong itu sepakat untuk
pergi memasang jerat di hutan. Sebelum berangkat mereka berpesan agar,
kaum ibu mengantar bahan makanan setelah enam hari. Keesokan harinya
mereka berangkat. Adik kecilpun mengikuti kakaknya. Selama dua hari
mereka di perjalanan dan akhirnya tiba pada kemah perburuan. Pada malam
harinya mereka tidur nyenyak karena sepanjang hari berjalan jauh.
Keesokan harinya mereka memasang jerat kuskus. Malam kedua telah lewat
dan siang hari tiu mereka mendatanggi jeratjerat itu. Ternyata banyak
sekali kuskus besar dan kecil yang terjerat. Kuskus itu dibawah ke rumah
masingmasing. Sementara itu bahan makanan telah habis karena itu selama
dua hari mereka tidak menikmati makanan. Ibu-ibu yang sudah dipesan itu
belum kunjunggi tiba. Adik 165 kecil itu hanya tidur-tiduran saja
karena amat lapar sedangkan kakaknya mendatanggi jerat lagi kalau-kalau
kuskus terjerat. Pada siang hari istri kakaknya tiba dengan beberapa
noken petatas masak dan mentah. Ibu itu melepaskan noken petatas masak
dan keladi di sebelah tungku api. Ia tidak memberikan petatas dan keladi
kepada adik kecil yang sedang lapar sekali itu, pada hal adik kecil itu
sementara amat lapar. Karena itu adik kecil tetap tidur-tiduran saja.
Sore hari kakaknya muncul, ia amat senang sebab istrinya sudah tiba.
Istri memberikan sejumlah petatas masak kepada suami. Tanpa berpikir
panjang kakaknya makan petatas dan keladi itu dengan menutup mata. Ia
makan terus sampai habis. Seusai kakaknya makan, adik kecil yang sedang
amat lapar ini menyanyikan sebuah gowai (puisi) sebagai berikut
“kakakku, kakakku bukan kakakku lagi, dengarkanlah kataku, seruanku,
adikmu, akulah adikmu, kososnglah isi perutku, lepaslah ususku, putuslah
ususku, inilah nasibku”. Seusai gowai (puisi) ini diucapkan adik kecil
menghembuskan nafas terakhir. Disinilah kakaknya menyadari bahwa istri
tidak memberi makan kepada adiknya, maka ia mengambil busur anak panah
lalu membunuh istrinya. Dengan demikian mayat adiknya serta 166 istrinya
di letakkan diatas sebuah para-para lalu pulang ke rumahnya dan hidup
selama-lamanya.
CERITA KOYEIDABA
Cerita Koyei dalam Bahasa Indonesia Di lembah kamuu daerah Makewaapa
papua, hiduplah sekeluarga yang sangat miskin dan tidak memiliki harta
kekayaan. Mereka tidak mempunyai kebun. Keluarga itu namanya Kibiuwo.
Keluarga Kibiuwo terdiri atas lima orang yaitu Ibu Kibiuwo, nama anaknya
yang pertama Neneidaba, nama anak yang kedua Noku, dan nama anak yang
ketiga Yegaku. Anak yang pertama dan kedua adalah putra dan anak yang
ketiga adalah anak putri. Nama ayahnya tidak pernah disebut-sebut sampai
saat ini. Mereka tidak ada nota (ubi jalar); nomo (talas); digiyinaapo
(sayur hitam); mege (kulit kerang yang dipakai sebagai mata uang adat)
suku Mee; dedege (sejenis kulit kerang berwarna putih yang dipakai
sebagai perhiasan leher); tidak ada ekina (babi) dan tidak ada segala
keperluan lainnya. Pada saat itu makanan yang ada hanyalah moke, kadaka,
digiyinaapo, dan muuti (goowe). Moke adalah tanah liat yang dapat
dimakan pada saat itu yang rasanya manis. Kadaka adalah petatas atau ubi
jalar pertama (asli) yang ada sebelum berbagai jenis ubi jalar
diciptakan. digiyonaapo merupakan sayur hitam yang asli dan muuti adalah
tebu asli. Keempat kebutuhan utama ini masih langka ketika itu. Saat
itu, kebutuhan terbatas dan musim kelaparan berkepanjangan. Dengan kata
lain krisis ekonomi berkepanjangan dalam keadaan miskin, lagi krisis
ekonomi berkepanjangan keluarga Ibu Kibiuwo berada di dalam rumahnya.
Mereka duduk berbincang-bincang tentang musim kelaparan yang
berkepanjangan. Bagaimana cara mengatasinya? Ketika itu tiba-tiba Ibu
Kibiuwo merasa hendak melepas air kemihnya. Dengan sendirinya, Ibu
Kibiuwo serta-merta berdiri dan ke belakang rumah melepaskan air
kemihnya. Dilihatnya, air kemihnya berwarna merah. Ia melepaskan air
kemih darah persis di atas rerumputan yang rendah Dengan berperasaan
takut dan heran, Ibu Kibiuwo memasuki rumah tanpa bersuara dan komentar,
sebab ia bertanya dalam hatinya mengapa terjadi air kemih darah dari
dalam dirinya sendiri sedemikian itu. Sebab tidak biasa dan tidak pernah
terjadi dalam kehidupannya yang sudah berlalu. Baru pertama kali
terjadi seperti itu. Tetapi Ibu Kibiuwo tidak menceritakan peristiwa
seketika itu. Mereka melanjutkan perbincangannya mengenai masalah
krisis perekonomian berkepanjangan, tiba-tiba terdengarlah suara
tangisan bayi yang sedang dilahirkan. Begitu mereka mendengar suara
tangisan itu, serta-merta berdirilah mereka untuk melihat dan
memperhatikan suara tangisan itu. Tujuannya adalah mereka ingin
mengetahui gerangan siapa bayi yang sedang menagis itu, oleh sebab itu,
mereka keluar ke belakang rumahnya dan menuju ke arah tangisan bayi itu
sambil mereka berjalan, perhatian mereka ke arah tangisan yang semakin
dekat. Tetapi tidak tertampaklah seorang manusiapun, terutama kaum
perempuan yang sedang melahirkan atau sedang duduk menyusuinya; atau
berdiri menggendong dan membujuknya; ataupun melewati di tempat itu,
atau membereskan posisi bayi yang letaknya salah, sehingga menyebabkan
tangisan bertubi-tubi. Sementara melangkah ke arah tangisan itu; suara
tangisannya bayi semakin keras; semakin lama semakin dekat tempat sumber
tangisannya; tangisan semakin keras pula; akhirnya dengan mudah mereka
mendapati seorang bayi laki-laki tergeletak di atas rerumputan rendah
persis bekas air kemih darah Ibu Kibiuwo terjatuh. Suara tangisan
merupakan undangan bagi keluarga Kibiuwo untuk menjemput kemunculan dan
kehadiran bayi itu dan merupakan pertanda bahwa keluarga Kibiuwolah yang
mendapatkannya. Bayi itu hendak hadir di dalam keluarga Kibiuwo yang
termiskin, bukan keluarga yang lainnya, meskipun akhirnya hasil karyanya
akan tersebar ke masyarakat suku Mee dan ke masyarakat suku bangsa yang
lain. Tidak tanggung-tanggung dan berpikir panjang lebar Ibu Kibiuwo
menunduk dan langsung mengangkat si bayi dari atas rerumputan rendah
itu, sebab Ibu Kibiuwo teringat peristiwa “ air kemih darahnya” sendiri.
Dia merasa air kemih darahnya memunculkan bayi itu, namun dia masih
ragu. Oleh sebab itu, agar lebih jelas dan meyakinkan bahwa bayi itu
berasal dari air kemih darahnya sendiri, maka ia menyuruh anak-anaknya
pergi menanyakan kepada keluarga-keluarga tetangganya, kalau-kalau kaum
ibu tetangganya sengaja meletakan ataupun membuang bayi itu persis di
atas rerumputan rendah bekas air kemih darahnya Ibu Kibiuwo. Ternyata
tidak demikian, malah keluarga-keluarga tetangganya berdatangan hendak
menyaksikan kemunculannya dan kehadiran bayi laki-laki itu di dalam
keluarga Kibiuwo sendiri. Setelah ibu-ibu tetangganya mengatakan bahwa
bukan bayinya mereka, malahan mereka berdatangan untuk menyaksikannya.
Dengan demikian, Ibu Kibiuwo benar-benar yakin bahwa bayi itu adalah
bayi yang berasal dari air kemih darahnya sendiri dan ia merasa bayi ini
pembawa berkat bagi keluarganya. Tetapi suaminya mengira bayi itu “
Ayayoka” artinya anak bayangan, atau anak roh; alasan ayahnya tidak
mempunyai ayah dan ibunya yang jelas. Karena Ibu Kibiuwo tidak pernah
menyampaikan informasi tentang air kemih darahnya, sebelum kemunculan
bayi tersebut. Suaminya hendak membunuh bayi itu, namun Ibu Kibiuwo
melarang keras suaminya untuk membunuh bayi itu. Akhirnya, suaminya
mengerti atas larangan istrinya. Lalu Ibu Kibiuwo memeluk dan membelai
bayi itu secara erat-erat untuk menyelamatkannya; melihat itu, suaminya
meredam perasaan prasangka dan perasaan pembunuhan terhadap bayi yang
tidak bersalah itu. Dengan sendirinya, suami itu memberi nama bayi itu
sesuai dengan prasangkanya, yaitu “Ayayoka”. Keluarga Kibiuwo menerima
kehadiran Ayayoka sebagai anaknya sendiri. Sejak Ayayoka hadir di dalam
keluarga Kibiuwo sampai dengan umur enam bulan, anak itu tidak makan dan
tidak minum. Setiap kali makanan dan minuman yang disuapkan ke dalam
mulutnya, senantiasa dimuntahkannya, tetapi anak itu tetap sehat lagi
mulus. Kedua orang tuanya dan anak-anaknya, memperhatikan Ayayoka
semakin lama semakin sehat meskipun tetap berbadan kecil dan mulus.
Karena melihat kondisi badan yang kecil dan mulus lagi sehat, ayahnya
memberi nama baru bagi Ayayoka yaitu “Koyeidaba”. Maksud pemberian nama
yang kedua ini adalah anak yang berbadan kecil, mulus dan tetap sehat. Nama kebanggaan ayahnya sebab anak yang
berbadan kecil, mulus, tetap sehat walaupun tidak makan dan minum.
Koyeidaba memasuki umur tujuh bulan, mulai berkarya melalui anusnya. Ia
mengeluarkan sejumlah makanan dan harta serta ternak. Semua makanan,
harta dan ternak dalam keadaan mentah dan hidup. Makanan yang dimaksud
seperti ubi jalar mentah; talas mentah; ubi jalar yang panjang dan
batangnya senantiasa terlilit pada pohon yang bertumbuh di sekitarnya);
sayur hitam mentah; sayur gedi mentah; tebu mentah; pisang mentah; buah
merah mentah; sayur lilin mentah dan lain-lain. Tujuan Koyei agar
semuanya dapat dikembangbiakan. Berupa harta benda; kulit kerang yang
dipakai sebagai uang adat suku mee; dedege (sejenis kulit kerang yang
kecil berwarna putih untuk perhiasan leher); manik-manik biru tua yang
dipakai sebagai perhiasan leher) dan lain-lain. Yang berupa ternak
seperti: ekina ( babi ) yang masih hidup sebanyak dua ekor. Dengan
adanya makanan, harta dan ternak di atas, yang sudah dikeluarkan melalui
anusnya itu berkembang biak secara cepat dan keluarga Kibiuwo tiba-tiba
menjadi kaya-raya sebanding dengan keluarga-keluarga tetangga yang
tadinya orang berada, bahkan melebihi mereka yang tadinya kaya-raya.
Atas berkat kehadiran Koyeidaba dan karyanya yang menyelamatkan keluarga
Kibiuwo dari hidup kemiskinan, terhindar dari krisis ekonomi
berkepanjangan. Setelah keluarga itu menjadi kaya-raya, tersebarlah
berita ke masyarakat, bahwa keluarga Kibiuwo tiba-tiba menjadi kaya-raya
atas berkat Koyeidaba, dan yang menaruh perhatian bahwa Koyeidaba
menjadi sumber kehidupan keluarga itu, maka timbul bermacam-macam
pendapat di dalam kehidupan masyarakat. Ada orang yang berpendapat
kehadiran Koyeidaba itu membawa berkat bagi keluarga Kibiuwo dan
keluarga-keluarga lain pula, karena dengan sejumlah makanan yang
dikeluarkan itu dapat tersebarlah ke seluruh masyarakat. Tidak sama
seperti sebelumnya sangat terbatas. Ada orang yang mengatakan bahwa
kehadiran Koyeidaba sebagai penyelamat dari krisis ekonomi yang
berkepanjangan, karena ia menambah makanan, harta dan ternak. Tidak
sedikit pula yang menyatakan Koyeidaba itu sebagai peredam makanan,
harta, dan ternak, karena sedikit saja yang dikeluarkan untuk keluarga
Kibiuwo. Ada orang yang menyatakan Koyeidaba adalah perampas,
penghimpun, penghilang kekayaan suku Mee. Dan ada yang menyatakan
Koyeidaba itu memperkaya keluarganya sendiri. Oleh sebab itu harus
disingkirkan atau dibunuh. Ada yang menyatakan Koyeidaba itu hanya
menciptakan segala keperluan bagi keperluan keluarga Kibiuwo sehingga
mereka menjadi kaya-raya. Jadi, singkatnya Koyeidaba dicurigai bahwa
dia adalah perampas, penghirup, penghilang, peredam, penghimpun dan
peramas semua kekayaan masyarakat Mee, sehingga masyarakat menjadi
miskin. Tadinya keluarga Kibiuwo termiskin, sekarang menjadi terkaya
oleh sebab itu mereka sepakat membunuh Koyeidaba. Mereka cemburu buta.
Mereka tidak mengerti karya penyelamatan dan penyempurnaan dari
Koyeidaba. Namanya saja kecil tetapi karyanya besar terhadap kelurga Kibiuwo, keluarga yang berada, dan keluarga yang
terkaya di dalam kehidupan suku Mee. Sementara itu Ibu Kibiuwo dan
ayahnya meninggal dunia. Setelah sepeninggalnya kedua orang tuanya,
segala urusan dalam keluarga diatur dan diurus oleh Koyeidaba. Tugas
utama Koyeidaba dalam keluarganya menciptakan makanan, harta dan ternak.
Pada saat itu mulai bertambah karya-karya penciptaan makanan, harta,
dan ternaknya berlimpah ruah. Ketika itu juga kelompok iri hati
bertambah banyak dan mereka mengabarkan isu palsunya bahwa sebelum Koyei
musim kelaparan berkepanjangan dan masa Koyei berkarya, masyarakat Mee
semakin berkekurangan, yang tadinya kaya, sekarang menjadi miskin, yang
tadinya miskin, sekarang menjadi kaya-raya seperti keluarga Kibiuwo. Isu
palsunya semakin lama semakin tersebar ke seluruh lapisan masyarakat
Mee. Supaya karya penyelamatan dan penyempurnaan tampak ke masyarakat
Mee dan masyarakat suku bangsa lainnya maka pada suatu hari Neneidaba
dan Noku diutus oleh Koyeidaba untuk pergi mengambil “Touye Kapogeiye”
(sebuah buku yang berisi seluruh adat istiadat kehidupan ) suku Mee, di
dalamnya tertulis segala kebaikan dan kesempurnaan ciptaan koyei di
suatu tempat yang jauh. Tempat itu yang tahu hanyalah Koyeidaba. Karena
Koyei yang ciptakan buku kehidupan itu dan menyimpannya. Setelah mereka
berdua berangkat ke tempat itu rumah kediaman mereka dikepung oleh
orang-orang dari kalangan iri hati. Koyeidaba sempat meloloskan diri
dari kepungan lalu melarikan diri ke arah gunung Odiyai, namun pengejar
dan pemanah begitu banyak maka Koyeidaba tertahan dengan desakan tusukan
anak panah pada lambungnya. Dan sebelum menghembuskan nafasnya yang
terakhir, Koyei menyatakan “ sesungguhnya saya memberikan kamu makanan
dan harta kekayaan, namun kamu tidak mengerti bahkan kamu
membunuhku.Karena,itu sekarang kamu berusaha sendiri dengan bersusah
payah. Peliharalah dua ekor babi itu baik-baik, karena kamu akan diadili
sesuai dengan setimpal perbuatanmu”. Sesudah itu, Koyeidaba menarik
nafasnya yang terakhir. Ketika kakak Neneidaba dan Noku pulang sambil
membawa Touye Kapogeiye, dari kejauhan terdengarlah ratapan adik Yegaku.
Setelah terdengar ratapan adik perempuan Yegaku, kakak Neneidaba dan
Noku bergegas-gegas ke rumah dan langsung bertanya kepada adik Yegaku
mengapa menangis?. Sambil meratap adik Yegaku menjelaskan bahwa
orang-orang di sekitarnya yang selalu iri hati terhadap karya
penyelamatan dan penyempurnaan Koyei telah membunuh adik Koyeidaba dan
lihatlah mayatnya. Adik Yegaku belum sempat menjelaskan dari awal
pembunuhan, lagi pula kakak Neneidaba dan Noku belum duduk, malah
pengejar dan pembunuh Koyei telah siap mengepung lagi terhadap kakak
Neneidaba dan Noku. Begitu dikagetkan oleh kepungan, kakak Neneidaba
dapat melarikan diri ke arah barat lalu sempat meloloskan diri masuk ke
sebuah gua batu kemudian menghilang di situ. Kemudian pada waktu yang
bersamaan, kakak Noku dapat melarikan diri ke arah timur tetapi sempat
tertahan dengan desakan orang-orang pengejar dan pemanah adik Koyeidaba. Orang-orang itu menahan
Noku. Noku memasrahkan dirinya sambil menggenggam erat-erat Touye
Kapogeiye. Dia menyatakan silakan kamu memanahku di bagian punggungku,
lalu mereka memanahnya pada bagian punggungnya. Sewaktu Noku dipanah,
Noku sempat berteriak dan mengutuk mereka dengan ungkapan “too kabu togo
kabu kiyayaikaine” (saya tinggalkan segala kegelapan dan keburukan
bagimu). Walaupun Noku dipanah namun ia tidak mati, akan tetapi ia masuk
ke dalam sebuah gua lalu tembus ke daerah yang lain (dunia barat).
Orang-orang yang mengejar Noku dan Neneidaba dari arah timur dan barat
kembali ke rumah kediaman Koyeidaba lalu menyembelih dua ekor babi lagi
yang pernah keluar dari anus Koyeidaba itu. Kemudian mereka memotong
kepala Koyeidaba dan kulit perut babi, mereka menutupkan lubang gua
bagian timur, lantas kepala babi dan kulit perut Koyeidaba ditutupkan
pada lubang gua bagian barat, sedangkan bagian daging Koyeidaba dan babi
dimakan bersama oleh pembunuh dan pengejar Koyeidaba, Neneidaba dan
Noku. Sesudah mereka makan bersama daging Koyeidaba dan babi, mereka
pulang ke rumah masing-masing ditandai dengan tarian kegembiraan dan
keberhasilan membunuh Koyeidaba. Nama tarian itu adalah “Yuuwaita”.
Segala kerahasiaan Koyeidaba yang tersirat dan tersurat dalam buku Touye
Kapogeiye, sedang dicari oleh sekelompok Suku Mee yang menamakan
dirinya Utoumana (sekelompok etnis yang mengaku dirinya pencipta
alat-alat budaya suku Mee).
Cerita Terjadinya Danau Tigi
Cerita ini dikisahkan menurut versi marga
Tigi yang bermukim di daerah Kamuu secara turun temurun. Cerita
Terjadinya asal usul danau Tigi telah terbentuk sejak satu generasi
sebelum Bapak Dege Bobeuta Tigi. Dege Bobeuta Tigi mengisahkan cerita
tersebut di atas kepada putra sulungnya Bapak Gatimaitaka Tigi. Bapak
Gatimaitaka Tigi mengisahkan cerita ini kepada putra sulungnya Donatus
Tigi. Donatus Tigi menmgisahkan lagi kepada putra sulungnya Jhon Tigi.
Jhon Tigi generasi kelima meneruskan kepada peneliti dengan bahasa
Indonesia dengan bertujuan mempermudah dalam proses penelitian ini.
Mereka mengisahkan bahwa danau Tigi adalah seorang putri marga Tigi dari Dogiyaugi daerah Kamuu, bukan dari daerah Tigi. Alasan mereka adalah seorang pemuda warga Woge dari daerah Pona kawin dengan seorang gadis daerah Kamuu. Pemuda Woge menetap di daerah lembah Kamuu bersama gadis di Dogiyaugi. Dogiyaugi merupakan daerah pertemuan si pemuda marga woge dan si gadis lembah.
Hal pertemuan, berkumpul, hidup sebagai suami istri, hidup sebagai saudara, hidup sebagai anggota keluarga secara bersama, dan lain-lain yang penting bertujuan menghasilkan sesuatu. Hal ini dalam bahasa Mee disebut “ Tigii”.
Dengan singkat Tigii berarti bertemu atau berkumpul untuk menghasilkan sesuatu. Jadi, artinya hasil pertemuan sebagai suami istri antara pemuda Woge dengan pemudi lembah Kamuu, menurunkan satu putri yang namannya Tigiimau Tigi, satu putra Tigii yang namanya Tigiidege Tigii dan dua putra lagi namanya Douw dan Iyowau.
Pemberian nama Tigiimau Tigii dan Tigiidege Tigii artinya putri dan putra yang merupakan hasil pertemuan si pemuda marga Woge dengan si gadis lembah Kamuu.Pemberian nama diri seseorang pada masa lampau di dalam kehidupan suku Mee sekarang diubah menjadi nama marga. Alasan dahulu nama pribadi sekarang diubah menjadi nama marga (clan) karena masa lampau orangnya sedikit dan tidak ada nama marga. Yang ada “Mee” dalam kehidupan suku Mee pada saat itu. Pemebrian nama Douw dan Iyowau adalah saudaranya Tigiimau dan Tigiidege Tigii. Keturunan mereka berempat tidak boleh memadu cinta antarsatu sama lain sebab saudara kandung.
Keempat bersaudara di atas, mereka tersebar di sekitar daerah Dogiyaugi, yaitu Tekewapa, Epeida, Kimupugi, Digipuga, Titokunu, Abaimaida, Dawaikunu, Bomomani, Bokaibutu dan Puduu.
Orang yang dijadikan sebagai pelaku utama dalam Cerita Terjadinya Danau Tigi adalah Tigiimau Tigii (Putri Tigi). Putri Tigii berasal dari keluarga Woge yang senantiasa hidup baik. Tidak pernah ada pertengkaran antarsuami-istri dan anak-anaknya namanya saja Tigi (berkumpul bersama). Mereka selalu hidup damai, hidup aman dan tentram.
Namun Putri Tigi kawin dengan seorang pemuda yang sifatnya lalim. Keluarga mereka berdua berantakan karena sifat suaminya tidak berubah selalu saja sifatnya yang jelek berada di dalam dirinya. Lalu Putri Tigi berasal dari keluarga yang nyaman merasa tertekan dengan sifatnya suami. Hal-hal yang baik dari Putri Tigi, diterapkan di dalam keluarga yang baru terbentuk, namun sia-sia belaka sebab suaminya tidak mengerti kehidupan keluarga yang baik.
Dari kedua latarbelakang kehidupan yang berbeda menimbulkan ketidaknyamanan dalam keluarga mereka berdua yang telah terbentuk. Pada saat itu juga hampir melahirkan anak pertamanya, namun suami bengis itu mengusir dengan cara mengutuk istrinya dan janinnya yang ada di dalam kandungan Ibu Tigi. Kata-kata kutukannya ”Hei perempuan jahanam keluarlah dari pintu belakang bersama janinmu yang ada di dalam perutmu”.
Terpaksa dalam keadaan emosi dan berbadan berat Putri Tigi keluar melalui pintu belakang dan mengembara ke arah utara, lalu berjalan lagi ke arah timur. Dengan jerih-payah menaiki lereng gunung Odedimi. Di gunung Odedimi inilah Putri Tigi memperoleh kekuatan dari dalam dirinya dan berkemampuan berjalan dan bertindak sesuatu. lalu ia menuruni lereng gunung Odedimi sebelah timurnya. Lalu di lembah berikutnya ia bertemu dengan beberapa orang penghuni lembah itu. Putri Tigi lelah, ia beristrahat di lembah ini, ternyata di pandangan mata orang-orang di sekitarnya, Putri Tigi dikelilingi genangan air secara tiba-tiba sampai sebatas lehernya. Orang-orang di lembah itu menjadi panik, lalu membatasi diri mereka dengan patokan-patokan kayu buah agar mereka tidak tergenang air sama seperti Putri Tigi.
Putri Tigi sendiripun tidak tahu kalau telah tergenang air di sekelilingnya, tetapi karena melihat orang-orang di sekitarnya membatasi diri mereka dengan patokan-patokan kayu buah, dia terkejut dan terangkat lalu ia terbang ke arah timur yang paling jauh dari tempat itu. Ia turun di sebuah lembah yang terjauh.
Di sinilah ia dapat melahirkan putranya dengan selamat. Putranya diberi nama Takimay. Takimay adalah menghadirkan dirinya di kalangan orang lain sebelum diterima sebagai anggota masayarakat baru, menghadirkan dirinya secara tiba-tiba di tengah-tengah marga Adii dengan maksud harus diterima sebagai anggota masyarakat di daerah baru berhubung kondisi badan Putri Tigi bukan manusia biasa lagi, melainkan berubah menjadi genangan air.
Dengan demikian, putranya diserahkan kepada marga Adii untuk dijaga dan dipelihara, sedangkan Putri Tigi sendiri telah berubah menjadi genangan air yang cukup luas menutupi sebuah lembah baru, Lembah itu sejak Putri Tigi menjadi genangan air sampai saat ini dijuluki lembah Tigi. Genangan air yang cukup luas dinamakan danau Tigi. Orang–orang di sekitarnya disebut penduduk Tigi. Daerah di sekitar danau Tigi disebut daerah Tigi. Wilayahnya disebut kecamatan Tigi pada saat ini.
Kemudian di daerah Kamuu yang pernah disinggahi Putri Tigi disebut Tiganidouda. Tiganidouda artinya Putri Tigi pernah singgah di lembah sempit itu. Atau bekas genangan air danau Tigi
Jadi, genangan air yang cukup luas itu adalah Putri Tigi yang terkutuk. Setelah Putri Tigi berubah menjadi genangan air, datanglah bapak kandungnya dari lembah Kamuu untuk mencari putrinya yang menghilang, ternyata putrinya menerima kedatangan Bapak dengan cara terpasangnya genangan air, hingga sebatas lehernya.
Tetapi Bapak tidak panik, lantas Bapak mengatakan terhadap genangan air itu dengan tenang “surutlah anakku, akulah Bapakmu mencari engkau”, dengan demikian genangan air itupun surut seketika itu juga. Setelah kejadian itu, dengan terharu Bapaknya memberi nama genangan air adalah danau Tigi, agar keturunan marga Woge dan Tigi dapat mengenangnya.
Kohei/Koyei (Mesianis Suku Mee)
Di daerah
pedalaman Nabire, tepatnya daerah Makewapa, hiduplah satu kelurga yang
miskin. Keluarga itu termiskin di daerah itu. Mereka tidak memunyai
makanan dan harta benda. Keluarga itu bernama Kibiuwo. Keluarga Kibiuwo
terdiri atas lima orang, yaitu Ibu Kibiuwo, nama pertama Neneidaba,
anak kedua Noku, dan anak ketiga Yegaku. Anak yang pertama dan kedua
laki-laki dan yang ketiga adalah anak perempuan. Nama ayahnya tidak
pernah disebut-sebut sampai sekarag (masih dirahasiakan).
Kelurga Kibiuwo duduk dalam rumah dan berbincang-bincang bagaimana mengatasi kelaparan yang menimpa keluarganya. Tiba-tiba saja ibu Kibiuwo serasa ingin buang air kecil. Dengan sendirinya, Ibu Kibiuwo serta merta berlari ke belakang rumah dan secara tiba-tiba melepaskan air kemihnya. Dilihatnya, air kemih itu berwarna merah. Ternyata ia melepaskan air kemih dalam bentuk darah, tepat di atas rerumputan yang rendah.
Dengan perasaan takut dan heran Ibu Kibiuwo memasuki rumah tanpa bersuara dan komentar. Ia terus bertanya-tanya dan merenungkan dalam hatinya, mengapa air kemihnya berdarah? Ia benar-benar heran karena selama hidupnya belum pernah terjadi hal serupa. Baru pertama kali terjadi seperti itu.
Mereka melanjutkan perbincangannya untuk terus mencari jalan keluar untuk mengatasi kelaparan yang sedang dan akan menimpa kelurga mereka. Ibu Kibiuwo tidak menceritakan kejadian yang menimpa dirinya ketika buang air kecil di luar sana. Tiba-tiba perbincangan mereka terputus oleh suara tangisan bayi.
Suara tangisan itu semakin besar, seakan meminta pertolongan orang. Mendengar tangisan bayi itu, serta-merta berdiri dan keluarlah mereka dari dalam rumah dan memperhatikan dari arah mana bayi itu menangis. Mereka berdiri di halaman rumah dan memperhatikan sekelilingnya. Suara tangisan semakin dekat, namun mereka tidak menemukan ibu yang mengendongnya atau ibu yang sedang melahirkan di dekat rumah mereka. Mereka terus melakukan pematauan di sekeliling rumah untuk mencari perempuan yang sedang duduk menyusui atau berdiri mengendong dan membujuknya. Tidak ada ibu yang melewati sekitar rumah mereka. Mereka terus melakuan pencarin. Tangisan terus bertubi-tubi.
Dengan penasaran mereka semakin ke belakang, tangisan anak semakin keras dan semakin dekat. Tangisan bayi mulai ke arah di mana Kibiuwo membuang air kemih berdarah. Akhhirnya, mereka menemukan seorang bayi lemah tergeletak persis di tempat Kibiuwo membuang air kemih. Dilihatnya, air kemih yang berdarah itu sudah tidak ada lagi.
Melihat bayi yang tidak berdaya itu, keluarga Kibiuwo merasa sayang. Ibu Kibouwo mengambil bayi itu dan membawa masuk ke dalam rumah, karena ia teringat peristiwa yang terjadi padanya. Ia merawat anak itu dengan senang hati, walaupun dalam kelaparan yang dasyat. Bayi itu terlahir dari lingkungan keluarga yang miskin dan kesusahan makanan. Ibu Kibiuwo bertanya-tanya apakah anak ini terlahir dari air kemihnya atau tidak.
Untuk memastikannya, ia menyuruh anak-anaknya untuk pergi bertanya-tanya kepada warga setempat disekeliling mereka. Warga di sekitaranya heran mendengar cerita itu. Mereka justru bertanya siapa gerangan yang meletakkan bayi itu di dekat rumah keluarga miskin itu. Terutama karena di daerah itu tidak ada ibu hamil.
Warga sekitar justru berdatangan ke rumah Ibu Kibiuwo untuk melihat bayi itu. Dengan demikian Ibu Kibiuwo benar-benar yakin bahwa bayi itu berasal dari air kemihnya. Ia merasa bayi itu pembawa berkat bagi keluarganya. Namun suaminya yang tidak disebutkan namanya itu merasa, bayi itu adalah ayayoka artinya anak bayangan atau anak roh. Alasan suaminya adalah karena anak itu tidak memiliki ayah dan ibunya yang jelas. Lagi pula Ibu Kibiuwo merahasiakan air kemihnya yang berdarah tersebut.
Suaminya berencana membunuh bayi itu, namun Ibu Kibiuwo melarang keras untuk membunuh. Suaminya masih ngotot untuk membunuh bayi lemah itu. Dia mengatakan ayayoka bisa membawa malapetaka bagi keluarga. Melihat niat suaminya, Ibu Kibiuwo memeluk dan terus membelai bayi itu. Melihat kasih sayang istrinya yang ditunjukkan melalui pelukan dan belaian itu, ia mengurungkan niatnya untuk membunuh bayi tersebut.
Suaminya menerima anak itu sebagai anak kandungnya. Ia menamai anak itu sesuai prasangkanya, yaitu “Ayayoka”. Hingga umur bayi itu enam bulan dia masih belum makan dan minum. Setiap kali Ibu Kibiuwo menyuap makanan dan minuman ke dalam mulut bayi itu terus dimuntahkannya. Namun bayi itu sehat dan mulus. Tidak pernah menangis untul meminta makanan dan minuman. Ketiga anaknya (Neneidaba, Noku dan Yegaku) menganggap bayi itu sebagai adik mereka. Mereka sungguh sayang kepadanya.
Hari berlalu tahun berganti, anak itu tetap sehat dan mulus. Melihat kondisi badannya yang agak kecil, mulus, sehat, dan berenergi, ayahnya memberikan nama baru baginya, yaitu Koyeidaba/Koheidaba. Koyei (daba)/Kohei (daba) yang berarti anak berbadan agak kecil, mulus, tetapi sehat dan berenergi. Koyei/Kohei menjadi nama kebanggaan ayahnya termasuk keluarga miskin itu.
Memasuki umur tujuh bulan, anak itu mulai berkarya melalui anusnya. Ia mengeluarkan makanan, harta serta ternak. Semua makanan dan ternak yang dikeluarkannya masih dalam keadaan mentah dan hidup. Ia mengeluarkan ubi mentah, talas mentah, apu (sejenis ubi jalar yang batangnya terlilit pada pohon di sekitarnya), sayur hitam mentah, sayur lilin mentah, sayur gedi mentah, bermacam-macam jenis tebu, bermacam-macam jenis pisang, buah-buahan termasuk buah merah mentah dan lain-lain. Tujuan Koyei/Kohei agar semuanya dapat dikembangbiakkan.
Berupa harta benda misalnya: mege (kulit kerang yang dipakai sebagai mata uang suku Mee); dedege (sejenis kulit kerang yang kecil berwarna putih untuk perhiasan leher), manik-manik biru tua yang dipakai sebagai perhiasan keher) dan lain-lain.
Sementara berupa ternak seperti: ekina (babi) yang masih hidup sebanyak dua ekor. Dua ekor babi itupun berkembang secara cepat, karena banyak makanan. Keluarga Kibiuwo menjadi keluarga yang berkecukupan di daerah itu. Keluara Kibiuwo tidak mengalami kelaparan lagi, kelahiran Koyei/Kohei menjadi berkat tersendiri bagi kehidupan mereka. Setelah keluarga Kibiuwo menjadi berkecukupan, tersebarlah berita itu di seluruh daerah. Melihat keluarga Kibiuwo yang berkecukupan berkat kehadiran Koyei/Kohei, muncul bermacam-macam pendapat dalam masyarakat di daerah itu.
Ada yang mengatakan, kehadiran Koyei/Kohei sebagai penyelamat dari kirisis ekonomi; ada yang berpendapat Koyei/Kohei sebagai peredam makanan, harta, dan ternak; ada juga yang menyangka Koyei/Kohey adalah perampas, penghimpun dan penghilang kekayaan suku Mee, dan ada juga yang berpendapat Koyei/Kohey hanya memperkaya keluarganya sendiri oleh sebab itu dia harus disingkirkan.
Masyarakat daerah itu merasa bahwa keluarga paling termiskin di daerah itu semakin menjadi kaya. Kecemburuan terus meningkat. Masyarakat diam-diam menyepakati untuk membunuh Koyei/Kohei. Sementara Ayah dan Ibu Kibiuwo tiba-tiba meninggal secara bersamaan. Koyei/Kohei menghibur ketiga saudaranya untuk tidak menangisi kepergian orang tua mereka. Namun mereka terus tangisi orang tua mereka. “Akan datang hari yang indah hari tidak ada orag kaya dan orang miskin. Semua orang akan hidup damai tanpa kekurangan apapun. Semua orang akan diselamatkan. Janganlah tangisi mereka. Mereka akan hidup.” Demikian kata-kata Koyei/Kohei menghibur.
Sejak kepergian ayah dan ibunya, Koyei/Kohei mengambil alih semua urusan keluarga. Dia juga mengajarkan mereka tentang kehidupan yang indah tanpa bermusuhan, tentang keadilan, tentang hak atas tanah dan lain-lain sambil berkarya meciptakan makan dan harta bagi mereka. Ketiga anak itu berkecukupan dan setara dengan masyarat sekitarnya. Kesetaraan secara tiba-tiba berkat kehadiran Koyei/Kohei tidak diterima oleh masyarakat setempat. Mereka (masyarakat sekitarnya) terus membenci kehadiran Koyei/Kohei.
Kelompok masyarakat tertentu yang iri dengan karya Koyei/Kohei mulai menyebarkan isu yang yang tidak benar. Katanya, “Kita akan menjadi miskin, tiga bersaudara akan menguasai kita. Mereka yang tadinya miskin kini mulai menjadi kaya. Dia (Koyei/Kohei) mementingkan keluarganya saja.” Mereka menyebarkan isu itu ke seluruh masyarakat Mee.
Mengamati isu yang berkembang itu, Koyei/Kohei merasa bahwa perlu mengambil sebuah buku yang berisi seluruh adat istiadat, kebaikan dan kesempurnaan. Maka suatu hari dia mengutus Noneidaba dan Noku untuk pergi mengambil “Touye Kapogeiye/Touhe kapogeihe” (sebuah buku tentang kehidupan, kebaikan dan kesempurnaan) ciptaan Koyei/Kohei. Tempat penyimpangan buku itu hanya dia yang tahu. Tidak ada orang yang mengetahuinya. Masyarakat sekitar mengetahui bahwa Noneidaba dan Noku sedang bepergian keluar dari daerah itu. Mereka tidak tahu untuk apa kedua pemuda itu pergi. Kesempatan itu benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat daerah itu untuk menyerbu Koyei/Kohei. Namun, dia meloloskan diri ke arah Gunung Odiyai. Pengejaran terus dilakukan dari gunung ke gunung, terus lari melewati kampung yang satu ke kampung yang lain, sungai-sungai besar disebrani, bukit-bukit ditaklukan.
Pada suatu titik jumlah orang yang mengejarnya semakin banyak, dia sudah semakin lelah. Panah yang tertusuk pada lambungnya semakin membuat dia tidak bisa meloloskan diri. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Koyei/Kohei berkata:
“Sesungguhnya saya memberi kami makanan dan harta kekayaan, namun kamu tidak mengerti bahkan membunuhku. Karena itu sekarang kamu berusaha sendiri dengan susah payah. Peliharalah dua ekor babi itu baik-baik, karena kamu akan diadili sesuai dengan setimpal perbuatanmu.”
Akhirnya Koyei/Kohei menarik nafasnya yang terakhir. Ketika, Noneidaba dan Noku pulang membawa “Touye Kapogeiye/ Touhe kapogeihe” dari kejauhan terdengar ratapan adik Yegaku.
Mereka berdua berlari-lari masuk ke dalam rumah dan mendekati adiknya ada gerangan apa dia meratap. “Adik…, itu adik… telah dikejar dan dibunuh semua orang di daerah ini. Dia sudah meninggal”, katanya sambil meratap. Mereka berdua masih bertanya-tanya kenapa adik mereka dibunuh. Sementara “Touye Kapogeiye/ Touhe kapogeihe” masih belum diserahkan kepada Koyei/Kohei untuk menjelaskan apa isi buku.
Yegaku masih meratap. Ketika, dia ingin menjelaskan lebih lanjut tentang proses penyerangan dan pembunuhan, rumah mereka justru dikepung. Masyarakat sekitar sudah siap dengan panah untuk menyerang mereka dua. Melihat kepungan itu, Noneidaba melarikan diri ke arah barat lalu sempat meloloskan diri ke dalam sebuah gua batu dan menghilang di situ.
Pada saat yang sama, Noku melarikan diri ke arah timur. Namun sial, dia tertembak panah dan tidak bisa melarikan diri. Noku masih belum mati tetapi dia menyerahkan diri untuk dibunuh sambil memegang erat-erat “Touye Kapogeiye/Touhe kapogeihe” di depannya. Dia membelakangi masyarakat (saat itu “Touye Kapogeiye/Touhe kapogeihe” ada di depan dia) dan memasrakan dirinya untuk ditembak di punggungnya. Pada saat panah tertancap dipunggungnya, Noku sempat berteriak dan mengatalan, “To kabu togo kabu kiyayaikaine” (saya tinggalkan segala kegelapan dan keburukan padamu). Lalu Noku berteriak histeris masuk ke dalam sebuah goa dengan membawa “Touye Kapogeiye/Touhe kapogeihe” lalu tembus ke daerah lain (dunia Barat).
Semua orang yang mengejar dan membunuh Koyei/Kohei dan Noku kembali ke kediaman Koyei/Kohei dan Noku. Di situ mereka memotong babi satu ekor dari dua ekor babi yang keluar dari anusnya Koyei/Kohei. Sementara, satu ekor babi berubah menjadi sebuah gunung dan kini dikenal dengan, “Gunung Duwanita”.
Selanjutnya, mereka memotong kepala Koyei/Kohei dan kulit perut babi, lalu menutupkan lubang gua bagian timur. Kemudian kepala babi dan perut Koyei menutupkan bagian barat. Sementara dagingnya mereka pesta bersama. Sesudah semuanya berakhir, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan teriakan kegembiraan (yuwaita).
Segala kerahasiaan Koyei/Kohei tersirat dan tersurat dalam buku “Touye Kapogeiye/Touhe kapogeihe”. Saat ini sedang dicari oleh sekelompok suku Mee yang menamakan dirinya Utoumana (kelompok pencipta alat-alat budaya).
Auki sebagai salah satu tokoh diantara
sekian banyak tokoh yang telah membuka pagar Allah yang dibuat secara
bertahap di tanah Papua dengan dorongan roh kudus. Tokoh-tokoh yang
tercatat dalam sejarah pembukaan pagar Allah di tanah Papua ialah Ottouw dan Geisller di Mansinam Manokwari (Papua Utara) pada tahun 1855, Ardmanville d’cock di Kokonao (Papua Selatan) pada tahun 1902, Auki Tekege (1932-1934) dan dan lain-lain sebagainya.
Pada zaman simbiotik, banyak orang dari
timur mengembara ke bagian barat pegunungan pusat. Salah satu marga
yang pindah dari sekitar danau Tage ke Mapia adalah marga Tekege. Adalah
Obasso Tekege, adik bungsu dari tiga bersaudara melarikan diri dari Tage (dimiya)
ke Mapia karena bagian daging burung yang diinginkannya tidak
diberikan oleh kedua kakaknya sehingga Obasso mengembara ke Tigi, pindah
lagi ke Idadagi masuk daerah Mapia, menetap di Maymapa dan tidak lama
kemudian pindah ke Modio. Keturunan Obasso sebagai berikut; Dodota,
Menani, Wateisa, Mootoo, Memaha, Beneika, Siwaika, Bidahai dan
Bedoubainawi (dikenal Auki).
Disebut Bedoubainawi karena semasa muda, Bedoubainawi mempunyai hoby berburu burung (Bedo = burung, ubai = cari, nawi
= jalan). Sehingga ia sudah mengoleksi berbagai jenis burung. Sebagian
besar dari burung yang dikoleksi adalah burung Cenderawasih.
Bedoubainawi rupanya mempunyai maksud tertentu dibalik kegiatan koleksi
burung Cenderawasih. Ia sering kali berjanji kepada masyarakatnya bahwa
pada suatu saat ia akan menghadirkan Ogai-pii (dunia modern).
Menginjak usia dewasa, Bedoubainawi mulai berburu keluar daerah Modio.
Daerah yang sering dilalui adalah daerah Isago-doko (diantara
Mapia dengan Kokonao). Di Isago ia berkenalan dengan seorang pemuda
bernama Ikoko Nokuwo. Sering mereka berdua berjualan hasil bumi kepada
orang-orang Kamoro (pantai selatan), dan diganti dengan kulit bia (mege
= alat pembayaran), sambil latihan bahasa Kamoro. Kepala suku Kamoro
dengan kepala perangnya sangat dikenal baik. Hari demi hari mereka dua
mulai belajar bahasa Kamoro dan akhirnya menjadi fasih.
Bedoubainawi sudah lupa lagi dengan
kampung kelahirannya di Modio. Namun pada suatu saat ia kembali ke
kampung Modio tanpa membawah sesuatu apapun. Kedatangannya tidak
disenangi masyarakat Modio yang ditinggalkan bertahun-tahun.
Orang-orang Modio bertanya kepada Bedoubainawi “dimana ogaipii
yang dari dulu kamu janji?“. Akhirnya masyarakat Modio memanggil
TAPEHAUGI yang artinya orang yang tidak beruntung. Pada waktu itu
hampir seluruh daerah Mapia terjadi perang. Perang itu terjadi antar
klan/marga dan kampung akibat pencurian, perzinahan yang berbuntut pada
pembunuhan yang sifatnya melanggar hukum Tota Mana. Sistem sangsi hukum pun tidak berlaku, hanya nyawa ganti nyawa. Dengan kata lain kebenaran-kebenaran itu semakin hilang.
Tapehaugi hampir setiap hari berpikir,
bagaimana caranya sehingga masyarakat bisa hidup aman, damai dan rukun
berdasarkan ajaran-ajaran Kabo mana dan Tota mana.
Pada suatu hari Tapehaugi memutuskan pergi mengunjungi rekannya Ikoko
Nokuwo di daerah Isago. Awal tahun 1930 Tapehaugi bersama istrinya
Kesaimaga Gobay mulai berjalan menuju pantai selatan. Selama satu
minggu mereka berjalan dari Modio bermalam di Mokobike, Boubaga,
Dikitinai hingga di kampung Bidau. Dikampung Bidau ia bertemu Ikoko
Nokuwo dan masyarakatnya bermarga Gabou-Kahame. Dari Bidau mereka menuju
Wagikunu. Esoknya mereka menuju kampung Dowudi dan malam ketujuh
mereka sampai di kampung Makaihawido. Di kampung itu Tapehaugi menetap
lama dan membuat rumah.
Tak lama kemudian mereka pergi menjual
hasil buminya ke Ugoubado (Pronggo) untuk ditukarkan dengan hasil bumi
dari pantai. Sampai di Ugoubado mereka masuk dirumah kepala suku Kamoro.
Pada malam hari Kepala Suku Kamoro menceritakan tentang orang-orang
barat yang sedang mewartakan Injil di daerah Kokonao. Tapehaugi sangat
tertarik dan ingin berjumpa dengan para misionaris tersebut. Namun
Kepala Suku Kamoro itu tidak menceritakan dimana keberadaan para
misionaris itu. Tapehaugi mengetahui maksud hati Kepala Suku dan
berjanji setelah tiga bulan Tapehaugi dan rombongannya akan membawah
hasil buruan dan makanan. Janji Tapehaugi diterima baik oleh Kepala Suku
Kamoro.
Tiga bulan kemudian Tapehaugi bersama rombongannya membawah 40 ekor burung Cenderawasih (tune mepiha)
yang sudah dikeringkan sebelumnya, ditambah makanan dan tembakau. Orang
Kamoro pun sudah mempersiapkan kulit bia, 40 buah kampak batu (maumi)
dan hasil laut lain sesuai perjanjian. Setelah pertukaran barang
selesai, Kepala Suku Kamoro berjanji akan membawah para misionaris
untuk berkenalan dengan Maihora (panggilan
orang Kamoro kepada Tapehaugi). Dengan hati yang senang dan gembira
Tapehaugi bersama rombongannya kembali ke Wagikunu.
Pada suatu hari sementara Tapehaugi sedang membuat kebun, tiba-tiba istrinya Kesaimaga memanggil: “Ke-ke..tobouga-gogo wake, akogeima kedeke kamena keino owegaimi”. Artinya ‘’hai orang Tobousa, jangan melamun, sahabat-sahabatmu sedang datang, mari jemput mereka”.
Tapehaugi pun bergegas menjemput mereka. Sesampai dirumah ia
berpapasan dengan orang-orang berkulit putih persis seperti anak yang
baru lahir (detamagawa). Kepala suku Kamoro berkata kepada
Auki: “Maihoga, inilah orang-orang yang mewartakan kabar gembira”. Maka
mereka saling berkenalan satu sama lain. Orang-orang berkulit putih itu
antara lain Pater Tillemans MSC dan dr Bijmler. Pada kesempatan itu
tepat bulan April 1932. Tapehaugi menceritakan, “dibelakang gunung
sana, orang seperti saya banyak, saya minta supaya kabar Injil
diwartakan kepada rakyat saya yang berada dibalik gunung sana”, ungkap
Tapehaugi berharap. Pater Tillemans berjanji setelah tiga tahun dirinya
akan datang menuju Modio – Mapia. Selanjutnya Tapehaugi bersama
istrinya kembali ke Modio.
Dalam perjalanan pulang, Tapehaugi mendapat nama baru dari seorang Malaikat di kampung / gunung Mokobike (Mouhago). Nama yang diberikan adalah AUKI –
artinya laki-laki yang hebat dalam nada keheranan. Sesampainya di
Modio, Auki menceritakan perjalanannya ke Kokonao termasuk nama yang
baru diberikan itu. Orang-orang yang turut mendengar cerita Auki antara
lain Minesaitawi Tatago, Metegaibi Kedeikoto, Dakeugi Makai dan teman
sedawar lain yang masih hidup pada masa itu.
Pada tanggal 21 Desember 1935, P.
Tillemans yang mengikuti Bijmler Ekspedisi menuju Modio. Setelah lima
hari perjalanan, pada tanggal 26 Desember 1935 rombongan P. Tillemans
dan Tuan Bijmler tiba di Modio. Pada waktu itu Ikoko Nokuwo memakai
topi yang dibuat dengan rotan. Mereka disambut dengan Tupi Wani (Kapauku Folkdance) dan dipotong dua ekor babi sebagai pengucapan syukur atas kehadiran dua orang barat tersebut.
Selanjutnya Auki memerintahkan kepada
Minesaitawi Tatago dan Dakeugi Makai untuk memanggil seluruh pimpinan
masyarakat (Tonawi) yang ada diseluruh pedalaman Paniai. Sepuluh hari
kemudian, para Tonawi tersebut tiba dengan rombongannya dengan membawa
babi untuk pesta perdamaian [tapa dei]. Mereka yang turut
hadir pada waktu itu antara lain Zoalkiki Zonggonao dan Kigimozakigi
Zonggonau dari Migani, Gobay Pouga Gobay dari Paniai, Itani Mote dan
Timada Badi dari Tigi, Papa Goo dari Kamu, Tomaigai Degei dari Degeuwo,
Pisasainawi Magai dari Piyakebo, Dekeigai Degei dari Putapa, Enagobi
Gobai dari Pogiano, Tubasawi Tebay dari Toubay, Mote Pouga Mote dari
Adauwo dan Dakeugi Makai dari Pisaise, dll.
Pada tanggal 7 Januari 1936, Pater
Tillemans memimpin Misa Kudus dan membuka Injil diatas batu didepan
rumah Bapak Auki. Itulah misa pemberkatan pertama di kampung Modio.
Setelah misa kudus, dilanjutkan dengan doa perdamaian (tapa dei)
yang dipimpin oleh Auki. Dalam doa inti Auki meminta Minesaitawi dan
Dakeugi untuk membunuh dua ekor babi yang telah dipersiapkan (Sabakina dan Bunakina). Ketika membunuh bunakina (babi hitam) Minesaitawi berkata: Aki mogaitaitage Mee (bagi yang akan berbuat zinah), aki oma nai tage Mee (bagi yang akan mencuri), aki pogo goutage Mee (bagi yang akan membunuh), aki Mee ewegaitage Mee (bagi yang akan menceritakan orang lain), aki pusa mana bokouto Mee (bagi yang akan menipu) kou ekinama dani kategaine. Artinya:saya samakan kamu yang akan melanggar ajaran Tota Mana dengan babi yang saya bunuh agar tidak terulang lagi.” Selanjutnya
Dakehaugi membunuh babi putih yang sudah diikat di Pohon Otika.
Setelah itu Dakehaugi memotong pohon Otika dan mengeluarkan darah merah
pertanda persembahan diterima.
Setelah upacara perdamaian selesai,
rombongan Pater Tillemans kembali ke Kokenau dan melaporkan perjalanan
kepada Pimpinan Gereja di Langgur (Ambon) dan Pemerintah Hinda Belanda
bahwa dipedalaman Paniai ada manusia. Laporan itu diketahui Assisten
Residen Fakfak dan Bestuur Assisten di Kaimana dan meminta Pilot Letnan
Dua Laut Ir. F. Jan Wissel untuk menelusuri daerah Pegunungan. Pada
awal bulan Februari 1937 Pilot Wissel terbang dari Utara (Serui = Geelvink) ke arah Selatan (Babo) menggunakan pesawat Sikorsky milik perusahaan Nederlands Nieuw Guinea Petroleum Maatschapij
(NNGPM) dan menemukan tiga buah danau dan perkampungan disekitar danau
itu. Sejak saat itu danau Paniai, danau Tage dan danau Tigi dikenal
Wisselmerren (bahasa Belanda artinya danau-danau Wisel). Selanjutnya
pada bulan April 1938 P. H. Tillemans MSC ikut Ekspedisi Van Eachoud
menuju Enarotali untuk membuka pos-pos pelayanan sekaligus menemui
Tonawi-Tonawi yang sudah dikenal jauh sebelumnya di Modio, 1936.
Berita adanya manusia di Pedalaman
Paniai didengar pula oleh Pendeta R. A. JAFFAR. Akhir tahun 1937 Pdt. R.
A. Jaffar mengajukan permohonan dan meminta ijin kepada Pemerintah
Hindia Belanda untuk membuka penginjilan di daerah pedalaman Paniai dan
permohon tersebut dikabulkan. Dari Makasar beliau berangkat menuju
Bumi Cenderawasih untuk melihat secara langsung keadaan penduduk
disana. Selanjutnya Pdt. R. A. Jaffar mengutus Pdt. Walter Post dan
Pdt. Russel Dabler untuk merintis daerah pedalaman Paniai. Sesampai di
Uta mereka berdua dijemput Yineyaikawi Edowai dan menuju daerah Paniai
melalui sungai Yawei. Begitu tiba mereka bermalam di rumah Itani Mote di
Yaba (Waghete).
Tahun-tahun berikutnya berturut-turut
didatangkan penginjil-penginjil muda seperti Sam Pattipeiloi dari
Ambon, Poltak Saragih asal Tapanuli dan Paja asal Kalimantan Timur
bersama 20 orang dari Kalimantan Timur meninggalkan Makasar pada 5
Maret 1939. Mereka tiba di bumi Cenderawasih pada 20 April 1939.
Berikut tahun 1941 datang pula beberapa lulusan SAM pada route yang
sama yaitu Ch. D. Paksoal, P. Pattipeiloi, C. Akhiary (Ambon Sanger
Talaut), Ajang Lajang, Salim dan Teringan asal Kalimantan Timur. Dari
kalangan gereja Katolik datang pula beberapa guru-guru muda seperti
Andreas Matorbongs ditempatkan di Enarotali, gr Meteray di Kugapa dan
Petrus Letsoin di Yaba.
Segera sesudah itu perang dunia kedua
meletus dan seluruh pelayanan misi dan zending diberhentikan. Beberapa
misionaris dan pemerintah Belanda diinternir oleh tentara Jepang. Salah
satu surat yang dilayangkan berbunyi: “Als de kontreleurs en de
Pastoors zich niet aan de Japanners overgeven, hebben nedaar voor reeds
twee grote kapmessen gereedliggen, een voor de pastoor en een voor
mij”. Artinya jika pemerintah dari Belanda dan Pater
tidak menyerahkan diri kepada pemerintah Jepang, mereka akan dipenggal
kepalanya. Orang-orang Jepang telah menyediakan dua buah pisau besar,
satu untuk penggal kepala para pastor, dan satu untuk saya (de Bruijn).
Mendengar informasi ini, para misionaris
dan Pemeritah Belanda segera disembunyikan oleh orang-orang pedalaman
di beberapa tempat seperti Komandoga, Siriwo dan Pegaitakamai.
Orang-orang yang disembunyikan di Pegaitakamai antara lain Pater
Tillemans, dr Rubiono dan DR. J.V. de Bruijn. Di gunung ini dokter
Rubiono yang mengikuti kedua orang barat itu menemukan seorang bayi
kecil (tuan tanah) dan disembunyikan dalam tas. Menurut orang
Mapia hingga saat ini, dokter Rubiono adalah Ir Soekarno, Presiden
Republik Indonesia pertama. Walaupun dalam dokumen-dokumen sejarah Suku
Me dan daerah sekitarnya tidak pernah disebut nama Soekarno, kecuali
nama dr Rubiono dan Adang Rusdy, seorang operator Radio Belanda – dan
juga Ir Soekarno sebelum tahun 1945 belum pernah injak daerah pedalaman
Irian.
Tak lama kemudian pada bulan Agustus dan
September 1942 tentara Jepang masuk ke daerah Paniai melalui Uta ke
Oraya terus ke Enarotali. Cengkeraman kekuasaan Jepang di Paniai
menyebabkan HPB de Bruijn terpaksa mengungsi ke Australia. Dalam
pengungsian ini, ikut serta 26 pemuda Ekagi dan Migani. Mereka adalah
Markus Yeimo, Piter Kadepa, Bernadus Gobay, Petrus Gobay, Kornelis
Madai, Obeth Takimai, Erenius Mote, Yoakim Mote, Dominggus Mote,
Bernadus Mote, Markus Goo, Kosmos Ekee dan Animalo Adi. Dari Merauke
ada beberapa yang masuk polisi seperti Manatadi Gobay, Kaimodi Yogi,
Bintang Gobay, Paulus Madai dan Yoseph Yeimo. Sedangkan yang lain masuk
Batalyon Papua yang dibentuk tentara Sekutu untuk memerangi sisa-sisa
tentara Jepang. Sementara itu, de Bruijn membawah tiga pemuda Ekagi ke
Australia, masing-masing Karel Gobay, Zakeus Pakage dan Ikoko Nokuwo.
Sementara itu Pater H. Tillemans dan dr. Rubiono bersama beberapa guru
lainnya, berangkat dari Mapia menuju Enarotali untuk menunggu pesawat
menuju Merauke. Di Enarotali P Tillemans dan rombongannya disembunyikan
di gunung Bobaigo. Di gunung ini, dr Rubiono menangkap burung Garuda (Imu = penjaga gunung, menurut orang Mee).
Pada tanggal 24 Mei 1943 P Tillemans MSC
dan rombongannya berangkat dengan pesawat terbang dari Enarotali ke
Merauke. Dua hari setelah keberangkatan mereka, daerah Paniai dan
sekitarnya diduduki oleh tentara Dai Nippon. Usai perang dunia kedua,
misionaris dan zending kembali ke daerah Paniai dengan membawah
tenaga-tenaga guru, suster, Pater untuk membangun daerah yang telah
“dipagari Allah”. Dari Misi seperti Gerardus Ohoiwutun dan Bartholomeus
Welerebun di Enarotali.
BUDAYA SUKU MEE PANIAI
“Dalam
arsitektur tradisional Suku Mee, terkandung secara terpadu wujud
ideologi orang Mee bahwa seorang laki-laki yang telah menikah, dan tidak
punya rumah itu sama hal dengan tidak memiliki segala sesuatu. Intinya,
arsitektur tradisional merupakan cermin budaya leluhur,” tuturnya.
Sekedar diketahui, suku Mee berasal dari Kabupaten Paniai, di kawasan Pegunungan Tengah Papua. Suku ini, dari hasil penelitian yang ada, termasuk suku terbesar, setelah suku Dani. Kemudian disusul suku Biak, suku Sentani (Jayapura) dan Ayamaru (Sorong). Setelah dimekarkan tahun 1997, sebagian orang Mee bergabung dengan Kabupaten Nabire. Ada pula yang urban ke Kabupaten Timika, Wamena, Biak, Sorong , Jayapura, Merauke dan beberapa kabupaten lain di Tanah Papua.
Sekedar diketahui, suku Mee berasal dari Kabupaten Paniai, di kawasan Pegunungan Tengah Papua. Suku ini, dari hasil penelitian yang ada, termasuk suku terbesar, setelah suku Dani. Kemudian disusul suku Biak, suku Sentani (Jayapura) dan Ayamaru (Sorong). Setelah dimekarkan tahun 1997, sebagian orang Mee bergabung dengan Kabupaten Nabire. Ada pula yang urban ke Kabupaten Timika, Wamena, Biak, Sorong , Jayapura, Merauke dan beberapa kabupaten lain di Tanah Papua.
kapabilitas yang dimilikinya lebih
cenderung mengutamakan kesejahteraan warga,kesejahteraan
warga,kesemuanya dilakukan dengan nurani yang polos tanpa ambisi radikal
menjadi pemimpin local. Lain halnya dengan system kepemimpinan formal
[Desa,Camat,Bupati,DPR,dan lainya].selai syarat dengan ambisi naik ke
level yang lebih tinggi,juga mencari masa melaui korupsi,kolusi dan
nepotisme.Sistem kepemimpinan formal yang telah bercokol hingga kedaerah
terpencil ini telah terjadi perubahan-perubahan radikal,yakni semakin
menyempitnya ruang gerak peranasn took-toko tradisional,karena mereka
tidak diperhitungkan lagi dalam implementasi program pembangunan
didaerah kekuasaannya,sehingga tidak mengherankan bila terjadi
penyimpangan-penyimpanggan yan merugikan rakyat kecil,disana sini saja
kasus korupsi diatas program pembangunan yang diimplementasikan,yang
pada ujung-ujungnya hilang mosi masyarat terhadap system kepemimpiana
formal baik ditingkat desa,hingga pemerintah pusat sekalipun. Disini
banyak kasus yang dapat kita lihaat,dana IDT,Bangdes,PPK,ditingkat
desa,misalnya banyak warga desa tidak menikmati dana-dana bantuan
tersebut,yang tragisnya dinyalir dana-dana tersebut jatuh ditangan
kepala desa dn aparat Camat,dan lain-lainnya,sehingga apatisme
pembangunan yang terjadi disana. Hanya sebuah kasus kecil dalam system
kepemimpinan desa,belum kasus besar lag yan terjadi ditingkat
kabupaten,propinsi,bahkan pusat.berkaitan dengan ini Drs.Mieke sehousen dalam sebuah hasil penelitian mengatakan “Tidak mengheraankan hal ini bukanlah gejala yanBaru.Ia
menyebut kesulitan dalam melaksanakan langkah-langkah pemerintah jika
kepala desa tidak disenangi:kemudian penduduk desa ,dengan perlawanan
pasif,sekalipun merugikan ini”. Disinilah legitimasi system kepemimpinan
diuji dimata rakyat,baik itu kahadiran aparatur pemerintah sebagai
pemimpin formal implementasi program.Sistem kepemimpinan tradisional
telah tergeser dengan adanya berbagai transformasi termasuk system
kepemimpinan formal yang merakyat dimana-mana.lantas dengan adanya
pembentukan majelis rakyat papua,kasak-kusuk membicarakan,tokt lokaal
sebagai salah satu pilar dimeja tersebut,pada hal beberapa decade
lamanya tokoh local diposisikan hanya sebagai penonton bahkan tak perna
dilibatkan dalam implementasi program alis proyek pembangunan,yang
semestinya dialah yang memiliki pengaruh dimasyarakat.apabila kalaupun
nanti majelis rakyat papua mulai diisi,percaya atau tidak akan muncul
tokoh-tokoh local gandungan alias aspal [Asli tapi palsu ]yang mengaku
dirinya tokoh dari suku ini atau suku itu,sementara tokoh pemompin
berkualitas masih jauh berada dibalik gunung,lembah ataupun dipinggiran
pantai,karena telah digeserkan sebagai pemimpin local dengan adanya
kepemimpinan formal.dan juga
pemimpin local diadakan yang muncul sepperti itu telah terkontaminasi
dengan kepemimpinan formal yang penuh dengan kebobrokan,sehingga perlu
pengujian criteria-kriteria legitimasi dan kapabilitas perpolitikan
tradisional
dimasyarakat.bila seorang mengakui dirinya sebagai tokoh adapt atau sejenisnya guna memperoleh jabatan anggota majelis Rakyat papua atau untuk memperoleh sesuatu,maka perlu dipertanyakan legitimasi dan kapabilitas dia sebagai tokoh masyarakat alias pemimpin local dari suatu etnis,baik yang mengakui sebagai bobot,tonowi,ondofolo,kayepak,kain,nagawan ,sonowi,membri,dan lainnya,sehingga diakui ketokohannya. Untuk itu perlu legitimasi dari masyarakat sebagai seorang tokoh,sebab dengan berbagai perubahan sosial budaya yang berubah cepat itu secara otomatispula telah berubah ketokohan yang sebenarnya demi memperjuang dewasa ini keakuan toko local telah terkontaminasi dengan kepemimpinan formal yang penuh dengan politik kotor dengan berorientasi untuk mencari kepentingan pribadi mengorbankan rakyat kecil yang tarah tau apa-apa.sebab pemimpin local dari suku-suku bangsa yang ada dipapua telah diuji dan memenuhi criteria serta memiliki kapabilitas dimasyarakat,sehingga ketokohannya mendapat legitimasi dari pendukunnya,hanya saja mereka tersebar dikampung-kampung terpencil.Dari uraian ini,ditarik simpulannya bahwa legitimasi kepemimpinan formal telah menggeserkan posisi tokoh masyarakat,sehingga berubah pada kegoncangan dan ancaman system kepemimpinan local,selain itu dengan adanya kepemimpinan formal meninggal preseden buruk bagi warga dengan mencermati penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pemimpin formal,juga terjadi dualisme kepemimpinan yang berimbas pada apatisme masyarat terhadap berbagai implementasi program pembangunan karena masyarakat mengakui kepemimpinan local.bersamaan itupula terjadi perpecahan solidaritas sosial yang ada sejak leluurnya,serta telah membatasi ruang pemimpin local,pula kepemimpinan formal telah mematikan kreatifitas masyarakat dalam usaha-usaha produktif ,yang ujung-ujungnya kini mereka mengharapkan bantuan [beras JPS,Beras Miskin alias raskin,bantuan kukesra,dan lainnya] dari pemimpin formal yang hanya membuka peluang kepada masyarakat mengharapkan bantuan lagi,yang tahu-tahunya pemerintah [pemimpin formal]pun meminjam bantuan luar negeri[padahal diapun trada apa-apa].Disinilah imbas dan problematika dari system kepemimpinan formal, sementara kepemimpinan local telah sirna bersama waktu, yang kini tinggal hanya nama atau konsep” Tonowi,Ondofolo,Kain,Sonowi,Kayepak,Tesmaypit,Bobot, Nagawan,dan lainnya,sedangkan isi atau ciri dan kapabilitas tarah tau entah kemana perginya.Akhirnya,bila kursi majelis rakyat papua mulai dibagikan,maka jangan lupa sisikan pemimpin local yang ada dikampung-kampung,baik itu dibalik gunung,lembah,pesisir,pantai,daerah aliraan sungai,daerah rawah dan lainnya.perhitungkan pemimpin local sebab dia mempunyai pengaruh yang sangat kuat dimasyarakat juga mengetahui keberadaan masyarakat serta memperjuangkan segala aspirasi dan kesejahteraan warganya.Penulis Adalah Koresponden Putra Wissel meren di kota manakwari.
dimasyarakat.bila seorang mengakui dirinya sebagai tokoh adapt atau sejenisnya guna memperoleh jabatan anggota majelis Rakyat papua atau untuk memperoleh sesuatu,maka perlu dipertanyakan legitimasi dan kapabilitas dia sebagai tokoh masyarakat alias pemimpin local dari suatu etnis,baik yang mengakui sebagai bobot,tonowi,ondofolo,kayepak,kain,nagawan ,sonowi,membri,dan lainnya,sehingga diakui ketokohannya. Untuk itu perlu legitimasi dari masyarakat sebagai seorang tokoh,sebab dengan berbagai perubahan sosial budaya yang berubah cepat itu secara otomatispula telah berubah ketokohan yang sebenarnya demi memperjuang dewasa ini keakuan toko local telah terkontaminasi dengan kepemimpinan formal yang penuh dengan politik kotor dengan berorientasi untuk mencari kepentingan pribadi mengorbankan rakyat kecil yang tarah tau apa-apa.sebab pemimpin local dari suku-suku bangsa yang ada dipapua telah diuji dan memenuhi criteria serta memiliki kapabilitas dimasyarakat,sehingga ketokohannya mendapat legitimasi dari pendukunnya,hanya saja mereka tersebar dikampung-kampung terpencil.Dari uraian ini,ditarik simpulannya bahwa legitimasi kepemimpinan formal telah menggeserkan posisi tokoh masyarakat,sehingga berubah pada kegoncangan dan ancaman system kepemimpinan local,selain itu dengan adanya kepemimpinan formal meninggal preseden buruk bagi warga dengan mencermati penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pemimpin formal,juga terjadi dualisme kepemimpinan yang berimbas pada apatisme masyarat terhadap berbagai implementasi program pembangunan karena masyarakat mengakui kepemimpinan local.bersamaan itupula terjadi perpecahan solidaritas sosial yang ada sejak leluurnya,serta telah membatasi ruang pemimpin local,pula kepemimpinan formal telah mematikan kreatifitas masyarakat dalam usaha-usaha produktif ,yang ujung-ujungnya kini mereka mengharapkan bantuan [beras JPS,Beras Miskin alias raskin,bantuan kukesra,dan lainnya] dari pemimpin formal yang hanya membuka peluang kepada masyarakat mengharapkan bantuan lagi,yang tahu-tahunya pemerintah [pemimpin formal]pun meminjam bantuan luar negeri[padahal diapun trada apa-apa].Disinilah imbas dan problematika dari system kepemimpinan formal, sementara kepemimpinan local telah sirna bersama waktu, yang kini tinggal hanya nama atau konsep” Tonowi,Ondofolo,Kain,Sonowi,Kayepak,Tesmaypit,Bobot, Nagawan,dan lainnya,sedangkan isi atau ciri dan kapabilitas tarah tau entah kemana perginya.Akhirnya,bila kursi majelis rakyat papua mulai dibagikan,maka jangan lupa sisikan pemimpin local yang ada dikampung-kampung,baik itu dibalik gunung,lembah,pesisir,pantai,daerah aliraan sungai,daerah rawah dan lainnya.perhitungkan pemimpin local sebab dia mempunyai pengaruh yang sangat kuat dimasyarakat juga mengetahui keberadaan masyarakat serta memperjuangkan segala aspirasi dan kesejahteraan warganya.Penulis Adalah Koresponden Putra Wissel meren di kota manakwari.
Menurut asal suku bangsanya, suku Mee dan
Suku Moni berasal dari “PUPU PAPA” Bagian Timur Pegunungan Tengah Papua
Barat. Bukti asal-usul sejarah adat per Marga Papua Barat, yang menghuni
di sekitar areal konsesi PT. Freeport Indonesia, Tembagapura kurang
lebih 150 (seratus lima puluh) Marga, baik itu dari Suku Amungme, suku
Moni maupun suku Mee.
Ada kurang lebih 22 (Duapuluh Dua) marga dari gabungan suku (Amungme, Moni dan Mee) yang menghuni di WASE atau disebut BANTI Tembagapura seperti: Marga Wamuni, Natkime, Jamang, Jupinii/Pakage, Beanal/Dogopia, Bukaleng, Omabak, Omaleng, Janampa/Nakapa, Magal, Jangkup/Jawejagani, Abugau, Uwamang, Diwitau, Dimpau, Metegau, Bonmang, Jundang, Magai/Yogi, Kedepa/Kogopa/Kobepa, Metang, Awalak dan lain-lain yang menghuni di bagian Selatan terdekat Gunung Grasberg dan Danau Wanagon.
Ada kurang lebih 47 (empat puluh tujuh) marga dari suku Moni seperti: Belau, Sondegau, Bagubau, Zagani, Wandagau, Ugimpa, Tipagau, Kobogau, Duwitau, Dimpau, Hanau, Zani, Zoani, Selegani, Bilampani, Abugau, Mbuligau, Sinipa, Gayamopa, Mayani, Tigau, Zanampani, Hogazau, Mazau, Puzau, Sujau, Agimbau, Nagapa, Somou, Japugau, Hagimuni, Maizeni, Hagisimizau, Zonggonau, Kayampa, Widigipa, Ematapa, Holombau, Muzizau, Emani, Nulini, Tapani, Nambagani, Naeyagau, Waeyapa, Bagau, dan Miagoni yang menghuni di bagian Utara terdekat Gunung Grasberg dan Danau Wanagon areal konsesi PT. Freeport Indonesia, Tembagapura, Papua Barat.
Sedangkan 47 (empat puluh tujuh) Marga dari suku Mee (Ekagi) terdiri dari: Kedepa, Kogopa, Kobepa, Nakapa, Tenouye, Bunai, Kadepa, Yatipai, Nawipa, Kogii, Gobay, Degei, Yogi, Muyapa, Dogopia, Yeimo, Kudiai, Nabelau, Umitaapa, Muniipa, Wageepa, Yumai, Yobee, Kogaa, Magay, Tobay, Edowai, Uti, Dawaapa, Adii, Pigai, Anoka Kayame, Yukei, Mote, Ogetai, Tatogo, Boma, Pigome, Koto, Apoga, Madai, Tebay, Obaipaa, Tekege, Takimai, dan Youw yang menghuni di bagian Barat dekat Gunung Grasberg dan Danau Wanagon areal konsesi PT. Freeport Indonesia, Tembagapura, Papua Barat.
Ada kurang lebih 43 (empat puluh tiga) marga lain yang menghuni di bagian Barat jauh dari Gunung Grasberg dan Danau Wanagon areal konsesi PT. Freeport Indonesia, Tembagapura, Papua Barat, yakni: Giay, Agapa, Pekey, Do, Pakage, Tagi, Tibakoto, Dukoto, Kedeikoto, Dogomo, Pinibo, Waine, Wakei, Petege, Makai, Anouw, Kegiye, Kegouw, Dimi, Butu, Tigi, Auwe, Kegaakoto, Ukago, Iyowau, Ikomouw, Gane, Bukegaa, Wogee, Mekei, Deba, Dumapaa, Boga, Pugiye, Kuwayo, Kamo, Tameyai, Nokuwo, Iyoupaa, Giyaipaa, Kotouki, dan Bobii.
Mereka (kurang lebih 150 marga) seperti tersebut diatas menuju ke wilayah Paniai menjadi pemilik wilayah adat dan hak ulayat di lembah Yabo, Aga, Degeuwo, Bogo, Uwodege, Eka, Weya, Yawei, Pugo, Daka/Dama, Duma/Dogomo, Yewa, Boma,
Oleh Dominikus Douw *)”Koteka moge Paniai makii, kou aniiya kagaabanoo, anii didi kogaa dani totaa kagaabano,”Lirik lagu berbahasa daerah Mee (Papua) di atas ini selalu dinyanyikan oleh grup band Koteka di Semarang. Koteka adalah pakaian adat untuk laki-laki dan moge adalah pakaian adat bagi perempuan di pegunungan tengah Papua. “Paniai makii” tanah air Paniai. “Kou aniya kagaaba” pakaian adat saya. “Anii didi kogaa dani” Saya sungguh bangga dan mencintai pakaian adatku. Dapat juga berarti daerah koteka tumpah darahku.”Totaa kagaaba” pakaian hasil cipta manusia yang sudah ada sejak dahulu kala dan terlestarikan hingga kini. Kira-kira demikian pengertian leksikalnya. Namun kata-kata bahasa Mee yang menjadi sebuah lirik lagu ini, tidak cukup dijelaskan hanya secara harafiah. Secara semantik, lirik lagu di atas mengatakan, koteka dan moge adalah lahir dari angka kepandaian orang pegunungan tengah Papua di masa lalu (dalam konteks ini Paniai). Ini adalah ciri khas saya. Saya adalah manusia berperadaban dan bersejarah. Koteka dan moge harus saya lestarikan karena saya sungguh bangga. Saya sungguh mencintai tanah air orang berkoteka moge. Aku selalu akan mengingat kau penuh seluruh karena aku tidak mau kehilangan identitasku. Kaulah (koteka-moge) yang dapat berbicara kapada dunia akan peradabanku. Aku ingin mengenangmu selalu, walau aku di ratau. Berbicara mengenai koteka dan moge di zaman jins, jas dan dasi, mungkin agak lucu. Bahkan jijik bagi kebanyakan orang, sekalipun orang pegunungan tengah. Orang akan bertanya mengapa koteka moge harus terus dilestarikan pada zaman digital ini. Anehkan. Tetapi ketika Anda merasa aneh, sadarkah kau dengan peradabanmu. Entahlah! Dibenak penulis muncul pertanyaan. Sejak dahulu kala siapa yang bisa membuat pakaian seperti yang kita pakai sekarang ini? Sebelum revolusi Prancis pecah, manusia kembali kepada adat dan budaya masing–masing. Ketika itu tetek nenek moyang tidak tahu membuat pakaian. Mereka hanya memakai koteka dan moge yang merupakan hasil dari kepandaian moyang. Angka kepandaian itulah yang perlu diapresiasi lewat musik untuk melestarikannya. Memang di sisi lain pemerintah berupaya agar koteka harus lepas karena peradaban sudah berganti. Namun penulis optimis, koteka di zaman ini bukan simbol ketertinggalan. Melainkan sebuah identitas dari sebuah bangsa. Identitas inilah kiranya perlu terus diwariskan. ***Koteka dibuat dari tumbuhan yang buahnya agak mirip dengan tumbuhan mentimun atau ketimun. Namun buah koteka agak panjang. Kalau sudah tua buah koteka agak keras. Orang Mee menyebutnya bobbe. Bobe biasanya di tanam di kebun atau di halaman rumah. Proses pembuatannya, bobbe dipetik (biasanya yang sudah tua) kemudian dimasukkan kedalam pasir halus. Di atas pasir halus tersebut dibuat api yang besar. Setelah panas kulit bobbe akan lembek dan isinya akan mencair, lalu biji-biji beserta cairan akan keluar dari dalam ruas bobbe. Setelah itu, bobbe digantung (dikeringkan) di perapian hingga kering. Setelah kering dilengkapi dengan anyaman khusus dan siap pakai sebagai koteka. Moge (cawat)
dibuat dari kulit kayu. Namun bukan sembarang pohon. Proses pembuatannya, pohon itu ditebang ambil dulu kulitnya, setelah mengambil kulitnya akan direndam dalam pecek atau akan disiram dengan air agar tetap awet. Kulit kayu itu dikeringkan di terik matahari. Kemudian kulit kayu itu akan terlihat coklat. Lalu kemudian dianyam dan dipakai sebagai moge. Lagu koteka moge di tetapkan oleh Koteka Group Band sebagai lagu mars. Lagu ini harus selalu dinyanyikan ketika pentas sebagai lagu pertama. Lagu koteka moge ini kalau didengar oleh pendengar hanya sederhana saja dan jauh dari harapkan pendengar baik itu dari sisi musiknya, suaranya dan kekompakannya dalam menyanyi. Namun di situlah letak seni dan kekhasan lagu ini. Karena group band Koteka ini dibentuk bukan sekedar untuk menyanyi dengan suara dan musik yang baik seperti grup musik biasanya. Akan tetapi mencoba berpikir bagaimana mengangkat seni dan budaya suku Mee melalui lagu-lagu. Selain itu melalui lagu-lagu, mencoba mengangkat nilai-nilai moral yang terkandung dalam budaya. Misalnya, melalui lagu berjudul ’’Woiyo Paniai Makiyo woiyo’. Lagu ini mengandung arti mari membangun Paniai dan Nabire dengan tinggalkan kebiasaan–kebiasaan buruk dan mengangkat nilai–nilai budaya suku Mee Papua yang sudah ada dari dulu yang hingga hingga kini mulai terkikis. Bob Marley, Lucky Dube, UB 40 dan lainnya yang begitu terkenal adalah bukan lagu-lagu pilhan Koteka Band. Komitmen Koteka Band adalah terus menciptakan lagu-lagu yang berkaitan dengan nilai– nilai budaya. Komitmen itu, sudah mulai terwujud dengan rekaman live namun karena keterbatasan dana, maka rekaman tracknya masih belum. Yang penting sekarang adalah, bagaimana memetik pengalaman ini untuk mencoba mengembangkan kebudayaan melalui lagu-lagu dalam rangka mengangkat nilai-nilai budaya. Personil Black Brothers, Pace Sembor, ketika di Jakarta bulan Mei 2005, saat beliau mengantarkan mayat rekannya David Rumaropen mengatakan ’’Kalau kalian mau berfokus ke dunia musik janganlah sekali–kali mau cinta sekolah.’’ Ini artinya bakat yang sudah ada itu harus terus kita kembangkan. Menurut penulis bakat itu sudah ada pada orang (mahasiswa) Papua, misalnya pada saat kita bermain musik, lalu satu orang angkat lagu dan suaranya pas dengan bunyi gitarnya, dan lagu tersebut dilantunkan oleh orang–orang yang ada di sampingnya tanpa mempelajari not dan sebagainya. Namun seperti pengalaman Koteka Band, kendala kita adalah tidak ada dukungan. Setelah bakat itu terlihat, siapa yang akan memfasilitasi? Ya kita tanya saja kepada para pejabat daerah. Semua kepala daerah tingkat I maupun para tingkat II Papua. Apakah ada bagian kesenian daerah yang benar-benar memperhatikan dan mengangkat budaya daerah? Ataukah kita harus ikut budaya dari luar saja?, seperti lagunya Bob marley dan kolega–koleganya? Contoh lain potensi yang tak pernah terperhatikan adalah tahun 2002 di Yogya ada group band bernama Paradise Band atau Black Wissel. Pada saat itu teman–teman Black Wissel pernah mencoba membuat rekaman livenya sebagai bukti dan syarat untuk melengkapi
permohonan kepada Pemda Nabire dan Pemda Paniai, untuk merekam tracknya. Namun tidak mendapatkan bantuan dari Pemda Nabire dan Pemda Paniai. Itu ketidakpekaan pemerintah daerah untuk mengembangkan seni dan budaya. Dengan melihat realita ini muncul pertanyaan, kapan orang Papua (suku Mee) akan berkembang dan mengangkat nilai–nilai budaya lewat musik? Namun kini kembali kepada kita semua baik pejabat, mahasiswa, dan seluruh lapisan masyarakat suku Mee, yang ada di Papua maupun yang ada di luar Papua. Apakah kita mau kembangkan group Band KAIDO dari bandung, BLACK WISSEL dari Yogja dan KOTEKA Group Band dari Semarang. Ketika grup band ini dengan susah payah telah meraih dan membangun budaya lewat musik, namun tidak terperhatikan. Penulis berharap kepada teman-teman dari suku Mee yang pernah membentuk group band, apabila kalian didukung oleh dana dan fasilitas, maka cobalah kembangkan kitong pu budaya kah, seperti gowai, ugaa, tupe, wanii dan lain- lain. Penulis juga pesan kepada teman–teman yang baru dan telah membentuk group band perlu pahami bahwa BOB MARLEY itu dari Jamaica dan LUCKY DUBE dari Afrika Selatan. Mereka berdua tidak sama dalam melantunkan lagunya, musiknya, dan suaranya jelas beda. Ketika JIMMY CLIFF pentas di Jamaica ia mengatakan “Saya bukan BOB MARLEY, saya adalah JIMMY CLLIF,, maka ia menyanyikan lagu–lagu ciptaan sendiri. Penulis berharap kalau bisa, perlunya mengangkat nilai–nilai budaya suku Mee yang telah ada seperti ugaa, Gowai, tupe, wani dan lainnya, karena pada prinsipnya bahwa, ,,Kita bukan mereka dan mereka bukan kita.” Seni dan budaya kita Papua (suku Mee) semakin terkikis habis oleh alkulturasi budaya. Kini kita lebih suka dengan lagu-lagu dari luar, kita mulai meninggalkan budaya kita yang khas. Kita semakin menjadi manusia tidak beridentitas. Untuk itu, mari kita menerapkan falsafah orang Mee, yakni dou, gai, ekowai dalam menyikapi hal ini. Pesan khusus kepada pejabat–pejabat orang Mee, lebih khusus lagi Bupati Nabire dan Bupati Paniai sebagai orang yang mengambil kebijakan di daerah, cobalah perhatikan generasi esok suku Mee Papua, agar nilai–nilai seni dan budaya tetap terlestari untuk selamanya. Karena memang kita harus lihat dulu ke dalam suku Mee, kemudian Papua seluruhnya dan secara nasional dan mendunia (internasinal). Kita berjalan itu, sambil melihat ke arah jalan (kebawah) bukan sambil melihat ke atas langit. Semoga saja! Amin!*) Alumni Fakultas Hukum UNTAG 1945 Semarang
Makna Konsep Budaya Yame OwaSecara etimologis dan harafiah dapat diartikan bahwa: Yame = (laki-laki) Owa (rumah). Artinya rumah tinggal khusus laki-laki dalam suku Mee–Papua. Konsep Budaya Yame Owa terdapat dalam suku Mee, yang mendiami di pegungungan tengah Papua. Suku Mee tersebar di danau-danau Wiselmaren dan daerah Kamuu, Mapia, Siriwo. Mee artinya manusia sejati.Yame Owa didirikan oleh seseorang yang memiliki satus sosial, ekonomi yang mapan menurut ukuran masyarakat sekitarnya dan karena mempunyai kemampuan tertentu baik dalam pemahaman budaya maupun hal-hal mistik. Yame Owa adalah tempat tinggal khusus laki-laki yang telah dewasa dan tempat berlangsungnya proses sosialisasi nilai-nilai budaya melalui proses komunikasi. Suku Mee memandang Yame Owa sebagai simbol pemersatu: ide, perasaan, perbedaan pandangan, yang berorientasi pada proses dialog dalam rangka penyesaian masalah-masalah yang terjadi di tengah masyarakat. Yame Owa dapat menghantarkan manusia suku Mee pada pengembaraan dalam pemikiran manusia dan memaknai alam semesta. Orang Mee mempunyai pandangan bahwa manusia harus hidup, melihat, berpikir melakukan sesuatu dan memandang ke depan dari dalam Yame Owa yang kokoh. Filosofi Konsep Budaya Yame OwaBerbicara tentang budaya Yame Owa tidak hanya terbatas pada sudut pandang yang tersimbol dalam rumah adat. Akan tetapi lebih penting adalah pandangan filosofis tentang budaya yang menjiwai seluruh aktivitas hidup suku Mee. Mengacu pada pegertian konsep budaya Yame Owa di atas, unsur filosofisnya yaitu suku Mee memandang proses hidup yang dijalani sebagai sebuah rumah Yame Owa yang kokoh dan unik. Filosofis budaya Yame Owa adalah pelestarian karya cipta Tuhan ketika manusia suku Mee harus membangun dirinya dan sesamnya dengan konsep budaya yang ada. Sebagaimana arsitektur vernakular Yame Owa, dibangun dengan suatu kearifan yang teliti dimana menentukan lokasi, bahan, bentuk, ukuran serta estetis bangunan itu sendiri. Berdasarkan tingkat kualitas yang maksimal tersebut maka dalam membangun dirinya dan sesama harus dengan seoptimal mungkin dengan cara membedakan mana yang baik dan buruk sebagai ciptaan Tuhan yang berakal budi. Pandangan filosofis tersebut, sudah menjadi acuan dalam usaha menata berbagai bidang kehidupan secara parsial. Karena kehidupan merupakan suatu sistem yang luas dan jangkauannya luas (multi-dimensional). Tentunya pandangan tentang bidang-bidang kehidupan ini ruang lingkup perhatianya selalu mengalami perluasan sesuai dengan tuntuan perubahan. Sebagaimana masyarakat suku M08/05/2008ee membangun rumah Yame Owa sebagai tempat yang memili multi fungsional dengan konstruksi bangunan yang kuat, maka Kabupaten Paniai sebagai Yame Owa maka semua kebijakan-kebijakan dan administrasi pemerintahan berawal secara baik sebagai fundamen menuju kematangan
Ada kurang lebih 22 (Duapuluh Dua) marga dari gabungan suku (Amungme, Moni dan Mee) yang menghuni di WASE atau disebut BANTI Tembagapura seperti: Marga Wamuni, Natkime, Jamang, Jupinii/Pakage, Beanal/Dogopia, Bukaleng, Omabak, Omaleng, Janampa/Nakapa, Magal, Jangkup/Jawejagani, Abugau, Uwamang, Diwitau, Dimpau, Metegau, Bonmang, Jundang, Magai/Yogi, Kedepa/Kogopa/Kobepa, Metang, Awalak dan lain-lain yang menghuni di bagian Selatan terdekat Gunung Grasberg dan Danau Wanagon.
Ada kurang lebih 47 (empat puluh tujuh) marga dari suku Moni seperti: Belau, Sondegau, Bagubau, Zagani, Wandagau, Ugimpa, Tipagau, Kobogau, Duwitau, Dimpau, Hanau, Zani, Zoani, Selegani, Bilampani, Abugau, Mbuligau, Sinipa, Gayamopa, Mayani, Tigau, Zanampani, Hogazau, Mazau, Puzau, Sujau, Agimbau, Nagapa, Somou, Japugau, Hagimuni, Maizeni, Hagisimizau, Zonggonau, Kayampa, Widigipa, Ematapa, Holombau, Muzizau, Emani, Nulini, Tapani, Nambagani, Naeyagau, Waeyapa, Bagau, dan Miagoni yang menghuni di bagian Utara terdekat Gunung Grasberg dan Danau Wanagon areal konsesi PT. Freeport Indonesia, Tembagapura, Papua Barat.
Sedangkan 47 (empat puluh tujuh) Marga dari suku Mee (Ekagi) terdiri dari: Kedepa, Kogopa, Kobepa, Nakapa, Tenouye, Bunai, Kadepa, Yatipai, Nawipa, Kogii, Gobay, Degei, Yogi, Muyapa, Dogopia, Yeimo, Kudiai, Nabelau, Umitaapa, Muniipa, Wageepa, Yumai, Yobee, Kogaa, Magay, Tobay, Edowai, Uti, Dawaapa, Adii, Pigai, Anoka Kayame, Yukei, Mote, Ogetai, Tatogo, Boma, Pigome, Koto, Apoga, Madai, Tebay, Obaipaa, Tekege, Takimai, dan Youw yang menghuni di bagian Barat dekat Gunung Grasberg dan Danau Wanagon areal konsesi PT. Freeport Indonesia, Tembagapura, Papua Barat.
Ada kurang lebih 43 (empat puluh tiga) marga lain yang menghuni di bagian Barat jauh dari Gunung Grasberg dan Danau Wanagon areal konsesi PT. Freeport Indonesia, Tembagapura, Papua Barat, yakni: Giay, Agapa, Pekey, Do, Pakage, Tagi, Tibakoto, Dukoto, Kedeikoto, Dogomo, Pinibo, Waine, Wakei, Petege, Makai, Anouw, Kegiye, Kegouw, Dimi, Butu, Tigi, Auwe, Kegaakoto, Ukago, Iyowau, Ikomouw, Gane, Bukegaa, Wogee, Mekei, Deba, Dumapaa, Boga, Pugiye, Kuwayo, Kamo, Tameyai, Nokuwo, Iyoupaa, Giyaipaa, Kotouki, dan Bobii.
Mereka (kurang lebih 150 marga) seperti tersebut diatas menuju ke wilayah Paniai menjadi pemilik wilayah adat dan hak ulayat di lembah Yabo, Aga, Degeuwo, Bogo, Uwodege, Eka, Weya, Yawei, Pugo, Daka/Dama, Duma/Dogomo, Yewa, Boma,
Oleh Dominikus Douw *)”Koteka moge Paniai makii, kou aniiya kagaabanoo, anii didi kogaa dani totaa kagaabano,”Lirik lagu berbahasa daerah Mee (Papua) di atas ini selalu dinyanyikan oleh grup band Koteka di Semarang. Koteka adalah pakaian adat untuk laki-laki dan moge adalah pakaian adat bagi perempuan di pegunungan tengah Papua. “Paniai makii” tanah air Paniai. “Kou aniya kagaaba” pakaian adat saya. “Anii didi kogaa dani” Saya sungguh bangga dan mencintai pakaian adatku. Dapat juga berarti daerah koteka tumpah darahku.”Totaa kagaaba” pakaian hasil cipta manusia yang sudah ada sejak dahulu kala dan terlestarikan hingga kini. Kira-kira demikian pengertian leksikalnya. Namun kata-kata bahasa Mee yang menjadi sebuah lirik lagu ini, tidak cukup dijelaskan hanya secara harafiah. Secara semantik, lirik lagu di atas mengatakan, koteka dan moge adalah lahir dari angka kepandaian orang pegunungan tengah Papua di masa lalu (dalam konteks ini Paniai). Ini adalah ciri khas saya. Saya adalah manusia berperadaban dan bersejarah. Koteka dan moge harus saya lestarikan karena saya sungguh bangga. Saya sungguh mencintai tanah air orang berkoteka moge. Aku selalu akan mengingat kau penuh seluruh karena aku tidak mau kehilangan identitasku. Kaulah (koteka-moge) yang dapat berbicara kapada dunia akan peradabanku. Aku ingin mengenangmu selalu, walau aku di ratau. Berbicara mengenai koteka dan moge di zaman jins, jas dan dasi, mungkin agak lucu. Bahkan jijik bagi kebanyakan orang, sekalipun orang pegunungan tengah. Orang akan bertanya mengapa koteka moge harus terus dilestarikan pada zaman digital ini. Anehkan. Tetapi ketika Anda merasa aneh, sadarkah kau dengan peradabanmu. Entahlah! Dibenak penulis muncul pertanyaan. Sejak dahulu kala siapa yang bisa membuat pakaian seperti yang kita pakai sekarang ini? Sebelum revolusi Prancis pecah, manusia kembali kepada adat dan budaya masing–masing. Ketika itu tetek nenek moyang tidak tahu membuat pakaian. Mereka hanya memakai koteka dan moge yang merupakan hasil dari kepandaian moyang. Angka kepandaian itulah yang perlu diapresiasi lewat musik untuk melestarikannya. Memang di sisi lain pemerintah berupaya agar koteka harus lepas karena peradaban sudah berganti. Namun penulis optimis, koteka di zaman ini bukan simbol ketertinggalan. Melainkan sebuah identitas dari sebuah bangsa. Identitas inilah kiranya perlu terus diwariskan. ***Koteka dibuat dari tumbuhan yang buahnya agak mirip dengan tumbuhan mentimun atau ketimun. Namun buah koteka agak panjang. Kalau sudah tua buah koteka agak keras. Orang Mee menyebutnya bobbe. Bobe biasanya di tanam di kebun atau di halaman rumah. Proses pembuatannya, bobbe dipetik (biasanya yang sudah tua) kemudian dimasukkan kedalam pasir halus. Di atas pasir halus tersebut dibuat api yang besar. Setelah panas kulit bobbe akan lembek dan isinya akan mencair, lalu biji-biji beserta cairan akan keluar dari dalam ruas bobbe. Setelah itu, bobbe digantung (dikeringkan) di perapian hingga kering. Setelah kering dilengkapi dengan anyaman khusus dan siap pakai sebagai koteka. Moge (cawat)
dibuat dari kulit kayu. Namun bukan sembarang pohon. Proses pembuatannya, pohon itu ditebang ambil dulu kulitnya, setelah mengambil kulitnya akan direndam dalam pecek atau akan disiram dengan air agar tetap awet. Kulit kayu itu dikeringkan di terik matahari. Kemudian kulit kayu itu akan terlihat coklat. Lalu kemudian dianyam dan dipakai sebagai moge. Lagu koteka moge di tetapkan oleh Koteka Group Band sebagai lagu mars. Lagu ini harus selalu dinyanyikan ketika pentas sebagai lagu pertama. Lagu koteka moge ini kalau didengar oleh pendengar hanya sederhana saja dan jauh dari harapkan pendengar baik itu dari sisi musiknya, suaranya dan kekompakannya dalam menyanyi. Namun di situlah letak seni dan kekhasan lagu ini. Karena group band Koteka ini dibentuk bukan sekedar untuk menyanyi dengan suara dan musik yang baik seperti grup musik biasanya. Akan tetapi mencoba berpikir bagaimana mengangkat seni dan budaya suku Mee melalui lagu-lagu. Selain itu melalui lagu-lagu, mencoba mengangkat nilai-nilai moral yang terkandung dalam budaya. Misalnya, melalui lagu berjudul ’’Woiyo Paniai Makiyo woiyo’. Lagu ini mengandung arti mari membangun Paniai dan Nabire dengan tinggalkan kebiasaan–kebiasaan buruk dan mengangkat nilai–nilai budaya suku Mee Papua yang sudah ada dari dulu yang hingga hingga kini mulai terkikis. Bob Marley, Lucky Dube, UB 40 dan lainnya yang begitu terkenal adalah bukan lagu-lagu pilhan Koteka Band. Komitmen Koteka Band adalah terus menciptakan lagu-lagu yang berkaitan dengan nilai– nilai budaya. Komitmen itu, sudah mulai terwujud dengan rekaman live namun karena keterbatasan dana, maka rekaman tracknya masih belum. Yang penting sekarang adalah, bagaimana memetik pengalaman ini untuk mencoba mengembangkan kebudayaan melalui lagu-lagu dalam rangka mengangkat nilai-nilai budaya. Personil Black Brothers, Pace Sembor, ketika di Jakarta bulan Mei 2005, saat beliau mengantarkan mayat rekannya David Rumaropen mengatakan ’’Kalau kalian mau berfokus ke dunia musik janganlah sekali–kali mau cinta sekolah.’’ Ini artinya bakat yang sudah ada itu harus terus kita kembangkan. Menurut penulis bakat itu sudah ada pada orang (mahasiswa) Papua, misalnya pada saat kita bermain musik, lalu satu orang angkat lagu dan suaranya pas dengan bunyi gitarnya, dan lagu tersebut dilantunkan oleh orang–orang yang ada di sampingnya tanpa mempelajari not dan sebagainya. Namun seperti pengalaman Koteka Band, kendala kita adalah tidak ada dukungan. Setelah bakat itu terlihat, siapa yang akan memfasilitasi? Ya kita tanya saja kepada para pejabat daerah. Semua kepala daerah tingkat I maupun para tingkat II Papua. Apakah ada bagian kesenian daerah yang benar-benar memperhatikan dan mengangkat budaya daerah? Ataukah kita harus ikut budaya dari luar saja?, seperti lagunya Bob marley dan kolega–koleganya? Contoh lain potensi yang tak pernah terperhatikan adalah tahun 2002 di Yogya ada group band bernama Paradise Band atau Black Wissel. Pada saat itu teman–teman Black Wissel pernah mencoba membuat rekaman livenya sebagai bukti dan syarat untuk melengkapi
permohonan kepada Pemda Nabire dan Pemda Paniai, untuk merekam tracknya. Namun tidak mendapatkan bantuan dari Pemda Nabire dan Pemda Paniai. Itu ketidakpekaan pemerintah daerah untuk mengembangkan seni dan budaya. Dengan melihat realita ini muncul pertanyaan, kapan orang Papua (suku Mee) akan berkembang dan mengangkat nilai–nilai budaya lewat musik? Namun kini kembali kepada kita semua baik pejabat, mahasiswa, dan seluruh lapisan masyarakat suku Mee, yang ada di Papua maupun yang ada di luar Papua. Apakah kita mau kembangkan group Band KAIDO dari bandung, BLACK WISSEL dari Yogja dan KOTEKA Group Band dari Semarang. Ketika grup band ini dengan susah payah telah meraih dan membangun budaya lewat musik, namun tidak terperhatikan. Penulis berharap kepada teman-teman dari suku Mee yang pernah membentuk group band, apabila kalian didukung oleh dana dan fasilitas, maka cobalah kembangkan kitong pu budaya kah, seperti gowai, ugaa, tupe, wanii dan lain- lain. Penulis juga pesan kepada teman–teman yang baru dan telah membentuk group band perlu pahami bahwa BOB MARLEY itu dari Jamaica dan LUCKY DUBE dari Afrika Selatan. Mereka berdua tidak sama dalam melantunkan lagunya, musiknya, dan suaranya jelas beda. Ketika JIMMY CLIFF pentas di Jamaica ia mengatakan “Saya bukan BOB MARLEY, saya adalah JIMMY CLLIF,, maka ia menyanyikan lagu–lagu ciptaan sendiri. Penulis berharap kalau bisa, perlunya mengangkat nilai–nilai budaya suku Mee yang telah ada seperti ugaa, Gowai, tupe, wani dan lainnya, karena pada prinsipnya bahwa, ,,Kita bukan mereka dan mereka bukan kita.” Seni dan budaya kita Papua (suku Mee) semakin terkikis habis oleh alkulturasi budaya. Kini kita lebih suka dengan lagu-lagu dari luar, kita mulai meninggalkan budaya kita yang khas. Kita semakin menjadi manusia tidak beridentitas. Untuk itu, mari kita menerapkan falsafah orang Mee, yakni dou, gai, ekowai dalam menyikapi hal ini. Pesan khusus kepada pejabat–pejabat orang Mee, lebih khusus lagi Bupati Nabire dan Bupati Paniai sebagai orang yang mengambil kebijakan di daerah, cobalah perhatikan generasi esok suku Mee Papua, agar nilai–nilai seni dan budaya tetap terlestari untuk selamanya. Karena memang kita harus lihat dulu ke dalam suku Mee, kemudian Papua seluruhnya dan secara nasional dan mendunia (internasinal). Kita berjalan itu, sambil melihat ke arah jalan (kebawah) bukan sambil melihat ke atas langit. Semoga saja! Amin!*) Alumni Fakultas Hukum UNTAG 1945 Semarang
Makna Konsep Budaya Yame OwaSecara etimologis dan harafiah dapat diartikan bahwa: Yame = (laki-laki) Owa (rumah). Artinya rumah tinggal khusus laki-laki dalam suku Mee–Papua. Konsep Budaya Yame Owa terdapat dalam suku Mee, yang mendiami di pegungungan tengah Papua. Suku Mee tersebar di danau-danau Wiselmaren dan daerah Kamuu, Mapia, Siriwo. Mee artinya manusia sejati.Yame Owa didirikan oleh seseorang yang memiliki satus sosial, ekonomi yang mapan menurut ukuran masyarakat sekitarnya dan karena mempunyai kemampuan tertentu baik dalam pemahaman budaya maupun hal-hal mistik. Yame Owa adalah tempat tinggal khusus laki-laki yang telah dewasa dan tempat berlangsungnya proses sosialisasi nilai-nilai budaya melalui proses komunikasi. Suku Mee memandang Yame Owa sebagai simbol pemersatu: ide, perasaan, perbedaan pandangan, yang berorientasi pada proses dialog dalam rangka penyesaian masalah-masalah yang terjadi di tengah masyarakat. Yame Owa dapat menghantarkan manusia suku Mee pada pengembaraan dalam pemikiran manusia dan memaknai alam semesta. Orang Mee mempunyai pandangan bahwa manusia harus hidup, melihat, berpikir melakukan sesuatu dan memandang ke depan dari dalam Yame Owa yang kokoh. Filosofi Konsep Budaya Yame OwaBerbicara tentang budaya Yame Owa tidak hanya terbatas pada sudut pandang yang tersimbol dalam rumah adat. Akan tetapi lebih penting adalah pandangan filosofis tentang budaya yang menjiwai seluruh aktivitas hidup suku Mee. Mengacu pada pegertian konsep budaya Yame Owa di atas, unsur filosofisnya yaitu suku Mee memandang proses hidup yang dijalani sebagai sebuah rumah Yame Owa yang kokoh dan unik. Filosofis budaya Yame Owa adalah pelestarian karya cipta Tuhan ketika manusia suku Mee harus membangun dirinya dan sesamnya dengan konsep budaya yang ada. Sebagaimana arsitektur vernakular Yame Owa, dibangun dengan suatu kearifan yang teliti dimana menentukan lokasi, bahan, bentuk, ukuran serta estetis bangunan itu sendiri. Berdasarkan tingkat kualitas yang maksimal tersebut maka dalam membangun dirinya dan sesama harus dengan seoptimal mungkin dengan cara membedakan mana yang baik dan buruk sebagai ciptaan Tuhan yang berakal budi. Pandangan filosofis tersebut, sudah menjadi acuan dalam usaha menata berbagai bidang kehidupan secara parsial. Karena kehidupan merupakan suatu sistem yang luas dan jangkauannya luas (multi-dimensional). Tentunya pandangan tentang bidang-bidang kehidupan ini ruang lingkup perhatianya selalu mengalami perluasan sesuai dengan tuntuan perubahan. Sebagaimana masyarakat suku M08/05/2008ee membangun rumah Yame Owa sebagai tempat yang memili multi fungsional dengan konstruksi bangunan yang kuat, maka Kabupaten Paniai sebagai Yame Owa maka semua kebijakan-kebijakan dan administrasi pemerintahan berawal secara baik sebagai fundamen menuju kematangan